Dylan
…Silhuetted by the sea
Circled by the circus sands
With all memory and fate
Driven deep beneath the waves
Let me forget about today
Until tomorrow…
Dylan bernyanyi, mendekap gitar dengan wajah yang sepenuhnya tertunduk, seakan di hadapannya berdiri seseorang yang pandangannya tak mampu ia tentang. Mungkin wujud selain dirinya, yang datang dari luar kenangan dan membawa kesedihan yang minta ia fahami. Atau mungkin wujud dirinya yang lain, yang datang dengan lumpur mengental di kedua langkahnya, dengan aroma kenangan yang hitam. Dylan memanggilnya Mr. Tambourine Man. Dan ia menyanyikan keinginan untuk mendengar dia bernyanyi.
Mungkin sebuah penghiburan atau kemabukan lain yang diharapkan mampu meredakan kelam nasib, yang telah membuatnya begitu dalam tertunduk, di hadapan beribu kamera yang tengah merekam detak jantungnya untuk ia saksikan kelak, di sebuah kehidupan yang menunggu, jauh di luar senandung sebuah lagu yang murung.
Orang-orang tepuk tangan.
***
Tepuk tangan itu bergema di telingaku, lalu lenyap saat kembali kulewati jalan ini. Sepi menggantung di langit meneteskan getahnya ke leherku. Malam bagai terus menyembunyikan sebuah pesta rahasia di luar diriku. Dan di antara tiang-tiang listrik
yang redup, kulihat orang-orang bersayap kelabu melambaiku. Aku melewati mereka sambil menenteng sebuah gitar tua yang bisu. Sedang dari jendela-jendela rumah yang terang, mereka yang masih mengenakan topeng anjing terbahak untuk seluruh kemualanku. Melintasi tikungan, menghitung muntahanku sendiri yang kering di atas trotoar. Beratus malam telah kumamah kata-kata yang sama, dan kuludahkan sebagai sajak-sajak kelam yang tak menjelaskan apa-apa.
Seorang malaikat termangu dekat sebuah gardu yang kosong. Kulihat tak ada pelacur yang biasa meminta api rokokku, sambil sedikit membuka ketiaknya yang mengkilap. Tak ada desis suara basahnya yang biasa. Tak ada kerjapan menggoda dari sepasang
matanya yang semakin hari semakin tampak menguning itu. Alisnya yang runcing, lipstik murahan dan wangi parfum kelas kios pinggir jalan. Tak ada. Pelacur itu kemarin malam ditemukan di sebuah got di pinggiran kota oleh seorang hansip yang biasa
kencing di situ. Ia telah menjadi mayat dengan bekas pukulan di batok kepalanya.
Aku bersendawa karena tiba-tiba ada segumpal angin mendorong keras dari lambungku. Berusaha bersiul dan teringat pada malaikat yang tadi termangu. Ia sudah tak ada. Kukira ia telah pergi ke sebuah tempat lain, memanjatkan doa untuk orang-orang
yang terabaikan. Kutahu ini hanyalah imajinasiku belaka, bahwa malaikat itu demikian berbahagia karena ia selalu akan menjalankan tugasnya dalam kesedihan tak terhingga. Kesedihannya yang dalam pada orang-orang yang bahkan tak mengenal
dirinya, sebagai pelayan Tuhan. Suatu saat ia akan datang pula padaku. Mungkin akan mengetuk pintu kamarku perlahan, dan dengan kesopanan yang terjaga akan menatapku yang lungkrah di atas ranjang. Kami akan saling bertatapan, dan ia akan
membisikkan doa-doa terpanjang untuk ketentramanku. Mungkin dalam sebentuk nyanyian atau senandung yang pilu sekaligus syahdu. Akan kupejamkan mata di bawah sentuhan nafasnya, sambil kukenangkan seorang perempuan tua dengan wajah merapuh
menunggu dengan pintu yang selalu terbuka lebar. Angin yang tak pernah keliru menjatuhkan kalakay daun jambu di halaman, di atasnya langkahku mengertap dan lalu sebuah kenyataan lindap ke dalam waktuku. Dengan kebencian sepenuh cinta, kurangkul ia.
Ibu! Ibu!
Tapi di depan kamarku tak ada siapapun. Bau karat handel pintu menempel ke telapak tanganku yang dingin. Kunyalakan lampu.
Gitar kusandarkan. Botol-botol kosong berserak di atas ranjang. Ke atas meja bayanganku memanjang, ke banyak kertas telanjang. Gelas-gelas berisi jentik nyamuk. Dengan sepasang sepatu yang semakin memberat kubaringkan tubuhku, setelah botol-botol itu kusingkirkan dan sebagian pecah di ubin. Di langit-langit kembali kulihat sepanjang jalan yang kulewati. Tiang-tiang listrik yang murung. Jendela-jendela yang
menyusut dan topeng-topeng anjing yang dilemparkan ke trotoar, ke atas ludahku. Sebagian masih kudengar menggonggong saat aku melewati gardu yang kosong.
Sesaat kuingat malaikat itu menoleh padaku. Apakah ia tersenyum atau tidak, aku tak tahu. Tapi bisa kusimpulkan bahwa kesedihannya tengah teramat sangat, dan bahkan ia tak berkeinginan untuk menyapaku. Seharusnya kujabat tangannya tadi, atau sekalian kunyanyikan sebuah balada untuknya, tentang apapun yang seharusnya kusampaikan padanya. Atau mungkin hanya sebuah sentuhan perkenalan. Apakah ia masih di sana sekarang? Kalau pun tadi ia menghilang, tentulah untuk kembali lagi sekarang. Begitulah. Ia akan kujumpai lagi tengah termangu sendirian.
Aku kembali bangkit dan dengan tenaga yang kudapatkan tiba-tiba, aku telah berdiri tegak. Kusambar gitarku dengan kegelisahan yang meluap.
Tapi sesuatu kemudian terinjak di antara pecahan botol yang berserakan. Aku menatapnya. Sebuah kutang kuning muda. Aku mengambilnya dan segera saja bisa kuhirup wangi dada perempuan itu. Sepasang dada yang sudah tak begitu subur dengan sepasang puting kehitaman. Tapi ke sanalah selalu kubenamkan mukaku, mengalihkan segenap kemuakan dan menghirup udara tawar dari kesamaran waktu. Memasuki masa lalu dengan kesenangan yang musykil, kuhisap puting-puting itu. Perempuan itu tertawa dan menamparku. Dia lalu akan terguling ke atas tubuhku, tapi aku selalu punya kekuatan untuk kembali merebut dadanya.
Kukoyak-koyak ia, kumamah ia, kumuntahkan seluruh asin nyawaku. Ia memekik dan lalu menghantamku bertubi-tubi. Tawanya membuat seluruhnya menjadi bara, begitu panas dan menghanguskan.
Ketika semuanya usai dan tinggal lelatu memenuhi ruang sempit kamar ini, ia akan memandangku dengan tatapan yang paling kukenal.
“Aku bukan ibumu, dan kenapa kau selalu ingin menyusu padaku?”
“Karena ia juga pelacur sepertimu.”
Ia lalu akan tahu isi pikiranku. Sebentuk wajah di keremangan, selalu kutatap dari sebuah ruangan tempat aku dibesarkan. Wajah itu selalu hadir di pinggiran jalan berdebu, ketika menjelang malam. Tak seorang pun peduli apa yang ingin kuteriakkan.
Ibu! Ibu! Tak ada siapapun yang lalu ingin memungutku.
Di atas ranjang ini ia lalu selalu memintaku menyanyikan lagu itu. Dengan perasaan yang paling mabuk, ia menatapku. Alisnya yang runcing dan sebagian telah terhapus pipiku. Bibirnya yang belepotan lipstik akan tersenyum dan kemudian mengikutiku bernyanyi. Tapi kali ini ia hanya ingin mendengarku bicara, tanpa gitar, dan yang paling kuingat adalah larik-larik lagu itu: Terbayangi oleh laut. Dilingkari oleh sirkus pasir. Dengan segenap kenangan dan nasib terdorong jauh ke bawah gelombang. Biarkan aku melupakan hari ini sampai besok…
Ia lalu bertepuk tangan. Menghisap rokok dalam-dalam.
“Mengapa selalu Dylan?”
“Karena kamu selalu minta lagu itu…”
“Ya, ya, mengapa selalu lagu itu? Seseorang pernah selalu menyanyikan lagu itu dulu di depanku, sebelum ia pergi sebagai anjing. Aku menyukainya, tentu saja, seperti halnya aku menyukaimu. Jadi nyanyikanlah terus lagu itu…”
Aku menatap keringat di hidungnya.
“Kamu tak usah cemburu, kamu lebih baik darinya. Itu yang ingin kukatakan…”
Aku menatap setitik keringat meluncur dari hidungnya. Ia tertawa. Meracau semalaman. Dan pada seluruh kejadian, lewat mataku yang nanar wajah di keremangan itu seringkali kulihat berkelebat di sepasang mata dan buah dadanya. Tapi ketika aku kemudian terbangun di pagi yang lain, di saat kuinginkan masih bisa kudekap tubuhnya, ia selalu telah menghilang. Aku melewati jalanan itu kembali. Jalanan yang beribu kali kulewati.
Aku benar-benar ingin melupakan semua kekonyolan yang telah lama menyiksaku. Tapi di gardu itu tak ada siapapun. Tak ada malaikat yang termangu. Tak ada doa-doa. Aku berdiri sebentar, dan kurindukan perempuan itu. Kurindukan buah dadanya. Kurindukan pekiknya yang mirip anjing kesakitan hingga aku tak dapat menahan dadaku, aku muntah-muntah sampai terasa tak ada lagi yang harus kumuntahkan.
Kulewati lagi kesepian itu. Kegelapan di sepanjang jalan membuat langkahku sedikit agak ringan. Kuusap keringat di leherku.
Kugenggam tubuh gitar dan kurasakan beberapa bagian yang retak. Tak ada yang ingin kulakukan, selain tiba-tiba mengharapkan seseorang yang mampu menjadi perempuan itu, mendengarku menyanyi malam ini. Dan dengan gitar di dekapan, aku menunduk ke hitam jalanan, menjadi Bob Dylan sebagaimana selalu kubayangkan saat kunyanyikan lagu ini.
“Lihat si Bob bernyanyi!” kudengar sebuah teriakan.
“Mana?”
“Itu dia, di bawah lampu tikungan!”
“Aha, nyanyikanlah lagu itu, Bob!” yang lain menimpali. Suara yang cukup ramai itu mengawali denting gitarku. Hey, Mister Tambourine Man, Play a song for me…
Mereka bertepuk. Memuji suara sengauku. Meminta mengulang lagu itu. Dan beberapa lembar ribuan melayang ke dekat kakiku. Aku tak peduli. Kupejamkan mata dan kunyanyikan lagu itu sekali lagi, sekian kali lagi.
Sesekali saku jaket kumalku tersentuh lengan yang memainkan gitar. Di dalamnya sebuah kutang terlipat rapi. Mungkin darah di beberapa bagian kutang itu, sekarang telah benar-benar kering.***
1997/2005
Dengan segenap hormat untuk Dylan dan Dylan