<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>setapak jalan</title>
	<atom:link href="http://setapakjalan.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://setapakjalan.wordpress.com</link>
	<description>terus berkarya, terus hidup!</description>
	<lastBuildDate>Wed, 09 Jan 2008 07:58:39 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='setapakjalan.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>setapak jalan</title>
		<link>http://setapakjalan.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://setapakjalan.wordpress.com/osd.xml" title="setapak jalan" />
	<atom:link rel='hub' href='http://setapakjalan.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>mengingat yang lalu&#8230;</title>
		<link>http://setapakjalan.wordpress.com/2008/01/09/mengingat-yang-lalu/</link>
		<comments>http://setapakjalan.wordpress.com/2008/01/09/mengingat-yang-lalu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Jan 2008 07:56:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nazaruddin azhar</dc:creator>
				<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://setapakjalan.wordpress.com/2008/01/09/mengingat-yang-lalu/</guid>
		<description><![CDATA[gerimis ada dan tiada berbagi ruang dalam hatiku saat kau menjelma gerimis yang tak pernah kuduga akan turun di senja itu 2007<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=setapakjalan.wordpress.com&amp;blog=1481606&amp;post=27&amp;subd=setapakjalan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><b>gerimis</b></p>
<p>ada dan tiada</p>
<p>berbagi ruang dalam hatiku</p>
<p>saat kau menjelma gerimis</p>
<p>yang tak pernah kuduga</p>
<p>akan turun di senja itu</p>
<p>2007</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/setapakjalan.wordpress.com/27/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/setapakjalan.wordpress.com/27/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/setapakjalan.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/setapakjalan.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/setapakjalan.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/setapakjalan.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/setapakjalan.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/setapakjalan.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/setapakjalan.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/setapakjalan.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/setapakjalan.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/setapakjalan.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/setapakjalan.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/setapakjalan.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/setapakjalan.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/setapakjalan.wordpress.com/27/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=setapakjalan.wordpress.com&amp;blog=1481606&amp;post=27&amp;subd=setapakjalan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://setapakjalan.wordpress.com/2008/01/09/mengingat-yang-lalu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cad689bfd03d35eb36c761faedba2e2b?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">nazaruddin azhar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lemon Tree&#8217;s &#8220;Nadia &amp; Atmospheer&#8221;</title>
		<link>http://setapakjalan.wordpress.com/2007/09/05/lemon-trees-nadia-atmospheer/</link>
		<comments>http://setapakjalan.wordpress.com/2007/09/05/lemon-trees-nadia-atmospheer/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Sep 2007 02:28:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nazaruddin azhar</dc:creator>
				<category><![CDATA[musik wajib]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://setapakjalan.wordpress.com/2007/09/05/lemon-trees-nadia-atmospheer/</guid>
		<description><![CDATA[Gombloh dan Lemon Tree’s anno ’69 “Nadia &#38; Atmospheer” Gombloh : akustik gitar, akustik gitar 12 snar, tabla, conga, drum, bass Wisnu Padma : akustik piano, synthesizer, organ, harpsichord, sinthebass, rolandstring, cello, bluesharp, mellotron, flute, violin, cabasa Gatot : elektrik gitar, akustik gitar Tuche : elektrik bass Totok : drum Vokal : Gombloh, Lorena, Reny [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=setapakjalan.wordpress.com&amp;blog=1481606&amp;post=25&amp;subd=setapakjalan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://setapakjalan.files.wordpress.com/2007/09/gombloh-1.jpg" title="Tautan langsung ke berkas"><img src="http://setapakjalan.files.wordpress.com/2007/09/gombloh-1.thumbnail.jpg?w=155&#038;h=128" alt="gombloh-1.jpg" height="128" width="155" /></a></p>
<p><strong>Gombloh</strong><strong> dan Lemon Tree’s anno ’69</strong><br />
<strong>“Nadia &amp; Atmospheer”</strong></p>
<p><strong>Gombloh</strong>    : akustik gitar, akustik gitar 12 snar, tabla, conga,          drum, bass<br />
<strong>Wisnu Padma </strong>   : akustik piano, synthesizer, organ, harpsichord,       sinthebass, rolandstring, cello, bluesharp, mellotron, flute, violin, cabasa<br />
<strong>Gatot  </strong>      : elektrik gitar, akustik gitar<br />
<strong>Tuche</strong>        : elektrik bass<br />
<strong>Totok </strong>       : drum<br />
Vokal        : <strong>Gombloh, Lorena, Reny C, Ais</strong></p>
<p>Lagu dan Lirik : Gombloh<br />
Produksi Indra Record/Golden Hand, 1978</p>
<p><strong>Side A</strong><br />
1.    Lepen (nostalgia Lemon Tree’s)<br />
2.    Merah &amp; Putih Bersilang di Dadaku<br />
3.    Nadia &amp; Atmospheer<br />
4.    Kereta itu Berangkat pk. 4.30<br />
5.    Ironi<br />
6.    Kemarau Panjang<br />
<strong> Side B</strong><br />
1.    Gaung Mojokerto-Surabaya<br />
2.    Tetralogi Fallot<br />
3.    Sillhuet Kuda Jantan<br />
4.    Hijau Mencekam<br />
5.    Bencana ‘ 76<br />
6.    Senandung Pengemis Tua Seharga 5 Rupiah<br />
7.    Dimensi Antar Ruang</p>
<p><strong>DENGAN</strong> kalimat apa kita mulai membicarakan seorang Gombloh? Mungkin dengan sebuah kalimat pujian: Ia musikus yang jenius.<br />
Kau bolehlah tak setuju, kawan, tapi bagiku, Gombloh adalah musikus serba lengkap. Ia cerdas menulis lirik, asyik mengolah nada, dan jenial dalam mengaransir lagu serta mampu memainkan berbagai alat musik sebagaimana tercantum dalam kaver kaset “Nadia &amp; Atmospheer” ini.<br />
Ini adalah album pertama Gombloh bersama Lemon Tree’s. Album yang kaya warna, terutama dalam tema lirik yang ditulis Gombloh. Saat kita mulai memutarnya di side A, yang pertama akan kita dengar adalah kenakalan Gombloh dalam menggombali perempuan. Dengan irama blues yang “melayang”, harmoni gitar dan hisapan harmonika, terdengar dibawakan dalam sebuah konser lengkap dengan teriakan “Selamat malam, Surabaya!” plus tepuk tangan, lagu ini terdengar ringan dan menyenangkan. Nilai plusnya tentu saja di lirik. Rayuan Gombloh seakan ingin mewakili para pejuang cinta dari kelas jalanan, yang pantang mundur, sok necis, sok romantis, dan tentu saja, tak kepalang gombal.  Apa lacur, saat ngapel pada si gadis, malah yang keluar adalah bapaknya, yang mukanya ditekuk persis kaya onta! Haha, Gombloh memang “bangsat” penutur humor yang asyik dalam lagu.</p>
<p>Tapi, ini bukan album humor, kawan. Di lagu ke dua, “Merah &amp; Putih Bersilang di Mukaku”, Gombloh hadir dengan jiwa merah putih yang lantang bertutur tentang kontradiksi yang ada di negerinya. Di lagu beraroma art rock (atau bacalah: rock progressive) berdurasi 8.20 menit ini, Gombloh menyandingkan kondisi yang “<em>bayi telanjang / bersimbah tawa bersimbah peluh</em>” dengan “<em>pedang telanjang /  bersimbah darah bersimbah keluh</em>”. Ia memotret negerinya dengan nada yang “nrimo” , dengan selipan nada riang, seakan memang kondisi di mana “Damai desa ramai kota saling pagut menyeluruh” telah ia terima sebagai kewajaran khas dari sebuah kehidupan.</p>
<p>Sebagai pencipta lagu, Gombloh nampak fasih bercerita apa saja. Ia tak hanya mampu membuat rasa nasionalisme kita kian tambun, tapi juga bisa dengan cerdas menyisipkan tema-tema yang agak asing dan jarang kita jumpai dalam lagu Indonesia kebanyakan.  Seperti tentang duka seorang ibu yang mengandung anaknya, tapi kemudian anaknya meninggal, dalam lagu “Tetralogi Fallot”. Judulnya sendiri sudah “berbau medis” (fallovian: saluran telur menuju rahim). Judul dan tema yang langka, dan mungkin baru Gombloh yang menuliskannya dalam lagu.</p>
<p>Di lagu lain, Gombloh bahkan bercerita tentang masa depan. Kecemasan illusif yang tercium tajam terdapat dalam lagu “Hijau Mencekam”, yang bercerita tentang satu juta tahun setelah Masehi. Kata Gombloh, kelak: <em>Pencakar langit berlomba dengan statistik kelahiran / Taman-taman tersingkir oleh kepadatan insan. </em>Kebutuhan bumi dipenuhi dengan kalengan, entah benda padat atau benda cair.<br />
Mahluk yang kita sebut Alien, terdapat dalam lagu “Dimensi Antar Ruang”. Ceritanya si tokoh dalam lagu berjalan sendiri, tiba-tiba ada suara aneh bagai suara musik campur dengung lebah. Ia pun mencari sumber suara, ternyata datang dari atas, sebuah benda bulat bersinar melayang turun, dan dari benda itu turunlah mahluk manusia kristal. Alien. Sayang, mahluk itu datang dan pergi begitu cepat, hingga si tokoh dalam lagu itu tak sempat bertanya: Apakah negara di sana berbentuk republik, apakah di sana ada demontrasi, apakah di sana ada prostitusi? Uh, imajinasi yang liar.  Tapi, dasar Gombloh, ia masih juga menyisipkan lirik tentang kecintaannya pada Republik Indonesia, di akhir lagu. Agak terganggu sebenarnya dengan bagian akhir di lagu itu, tapi, ya memang begitulah inginnya si pencipta lagu.</p>
<p>Lagu lain, ada tentang keindahan alam, kedamaian, juga sketsa sosial tentang pengemis tua. Gombloh juga lantang bersikap jantan dalam lagu “Silhuete Kuda Jantan”.</p>
<p>Musikus bernama asli Sudjarwoto Sumarsono yang lahir di Jombang, 12 Juli 1948 dari pasangan Slamet dan Fatukah ini, meninggalkan salah satu karya terbaiknya, yakni album ini. Ia meninggal 9 Januari 1988, setelah berkarya dalam 16 album, baik bersama Lemon Tree’s, maupun album solo.*</p>
<p><em>Lirik</em></p>
<p><strong>LEPEN (lelucon pendek)</strong></p>
<p>Bagiku sinar mentari tak seindah matamu<br />
Untukku elusan angin tak semulus lenganmu<br />
Tak perduli omongan temanku<br />
Tak perduli resiko untukku<br />
Aku naksir kamu kau jadi gadisku</p>
<p>Malam minggu pertama aku piket<br />
Dengan sisa uang di saku hampir lengket<br />
Dengan tiga batang dji sam soe<br />
Kusimpan di saku blue jeanku<br />
Kickers loakkan menambah angker tampangku</p>
<p>Kupilih duduk di sudut agak remang<br />
Kutunggu keluar sang putri Aryo Penangsang<br />
Pikiran melayang yang bukan-bukan<br />
Andaikan kau dan aku berpacaran<br />
Kalau cinta melekat tai kucing rasa coklat</p>
<p>Tapi apa lacur yang keluar adalah bapaknya<br />
Dengan muka ditekuk persis kaya onta<br />
Dengan garang ia berkata<br />
Gadisku tak ada di rumah<br />
Sambil ngedumel kuberkata dalam hati… Bangsat!!!</p>
<p><em>*pada versi lain, Gombloh merubah lirik di bait ke 1 &amp; 2 menjadi:</em></p>
<p>Bagiku sinar mentari tak seindah matamu<br />
Untukku elusan angin tak semulus pahamu<br />
Tak perduli omongan temanku<br />
Tak perduli resiko untukku<br />
Aku naksir kamu kau jadi &#8220;ehe&#8221;-ku</p>
<p>malam minggu pertama aku piket<br />
dengan sisa uang di saku hasil nyopet<br />
dengan tiga batang dji sam soe<br />
kusimpan di saku blue jeansku<br />
kickers loakkan menambah item kakiku</p>
<p><strong>MERAH DAN PUTIH BERSILANG DI MUKAKU</strong></p>
<p>Angin laut tampar lembut terasa dingin di kudukku<br />
Burung camar samar halus fatamorgana di depanku<br />
Senyum perawan tipis berawan<br />
Tempel di pelupuk mata kananku<br />
Yang Shanti<br />
Yang Shanti<br />
Yang Shanti<br />
Yang Shanti</p>
<p>Bara api terasa kering lapisan panas di keningku<br />
Prostitusi caci maki budaya lewat di kotaku<br />
Bersimpang siur dada berdebur<br />
Tempel di pelupuk mata kiriku<br />
Yang Shanti<br />
Yang Shanti<br />
Yang Shanti<br />
Yang Shanti</p>
<p>Hey hey bayi telanjang<br />
Bersimbah tawa bersimbah peluh<br />
Hey hey pedang telanjang<br />
Bersimbah darah bersimbah keluh</p>
<p>Kejar mengejar diseling kerling<br />
Mega berarak tuding-menuding<br />
Peluk berpeluk saling menggiling<br />
Guru mengguru dunia berpaling</p>
<p>Damai desa ramai kota saling pagut menyeluruh<br />
Kuncup tebu asam arang saling berjanji memadu<br />
Lestari alam ciptaan Satu<br />
Tempel di kedua mata batinku<br />
Yang Shanti<br />
Yang Shanti<br />
Yang Shanti<br />
Yang Shanti</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/setapakjalan.wordpress.com/25/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/setapakjalan.wordpress.com/25/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/setapakjalan.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/setapakjalan.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/setapakjalan.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/setapakjalan.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/setapakjalan.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/setapakjalan.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/setapakjalan.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/setapakjalan.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/setapakjalan.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/setapakjalan.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/setapakjalan.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/setapakjalan.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/setapakjalan.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/setapakjalan.wordpress.com/25/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=setapakjalan.wordpress.com&amp;blog=1481606&amp;post=25&amp;subd=setapakjalan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://setapakjalan.wordpress.com/2007/09/05/lemon-trees-nadia-atmospheer/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cad689bfd03d35eb36c761faedba2e2b?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">nazaruddin azhar</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://setapakjalan.files.wordpress.com/2007/09/gombloh-1.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">gombloh-1.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Keindahan Puisi Tiongkok Klasik</title>
		<link>http://setapakjalan.wordpress.com/2007/09/03/keindahan-puisi-tiongkok-klasik/</link>
		<comments>http://setapakjalan.wordpress.com/2007/09/03/keindahan-puisi-tiongkok-klasik/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Sep 2007 03:55:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nazaruddin azhar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku Bagus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://setapakjalan.wordpress.com/2007/09/03/keindahan-puisi-tiongkok-klasik/</guid>
		<description><![CDATA[Judul Buku             : Purnama di Bukit Langit Antologi Puisi Tiongkok Klasik Karya Terjemahan : Zhou Fuyuan Penerbit                 : Gramedia (cet.1/April 2007) Tebal                     : 454 h CARILAH ilmu meskipun sampai ke negeri Cina, sabda Nabi. Dan hal ini berlaku juga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=setapakjalan.wordpress.com&amp;blog=1481606&amp;post=22&amp;subd=setapakjalan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://setapakjalan.files.wordpress.com/2007/09/10kaver.jpg" title="Tautan langsung ke berkas"><img src="http://setapakjalan.files.wordpress.com/2007/09/10kaver.thumbnail.jpg?w=128&#038;h=128" alt="10kaver.jpg" height="128" width="128" /></a></p>
<p>Judul Buku             : <strong>Purnama di Bukit Langit</strong><br />
Antologi Puisi Tiongkok Klasik<br />
Karya Terjemahan : Zhou Fuyuan<br />
Penerbit                 : Gramedia (cet.1/April 2007)<br />
Tebal                     : 454 h</p>
<p><strong>CARILAH </strong>ilmu meskipun sampai ke negeri Cina, sabda Nabi. Dan hal ini berlaku juga untuk kita yang ingin mendalami puisi. Cina atau Tiongkok tercatat sebagai negeri dengan sejarah kesusastraan paling tua di muka bumi ini. Puisi-puisi Cina klasik hingga saat ini bagai sumur yang tak pernah kering digali, dinikmati, dirasakan kesejukan dan kesegarannya. Ribuan, bahkan jutaan puisi lahir dari ribuan penyair Tiongkok kuno. Karya-karya mereka adalah mutiara yang kilauannya menembus bentangan masa, terentang sepanjang zaman.</p>
<p>Sayangnya, mutiara-mutiara tersebut tak bisa kita reguk kilauannya dengan leluasa dalam rentang waktu yang cukup lama. Pada masa orde baru berkuasa di negeri ini, hanya beberapa gelintir puisi saja yang bisa kita nikmati terjemahannya dalam berbagai cetakan media. Selama itu bahkan tercatat hanya satu buku yang pernah diterbitkan mengenai karya-karya penyair Tiongkok klasik, yakni Antologi Puisi Klasik Cina (Budaya Jaya, 1976). Buku ini memuat 56 buah puisi hasil terjemahan Sapardi Djoko Damono dari Bahasa Inggris. Artinya puisi tersebut sampai ke tangan kita setelah mengalami dua kali penerjemahan, dari bahasa Cina ke Bahasa Inggris, lalu ke Bahasa Indonesia. Kebijakan politik orba tentu saja menjadi salah satu penyebab utama mengapa kita begitu berjarak dengan karya sastra Cina selama ini.</p>
<p>Bila membaca buku terjemahan Sapardi kita hanya bisa mencicipi sedikit dari aroma klasik puisi Cina, maka lewat buku &#8220;Purnama di Bukit Langit&#8221; kita bisa mereguk puas aroma dan auranya yang sungguh menakjubkan. Dalam buku ini tak kurang dari 560 buah puisi disajikan sang penerjemah Zhou Fuyuan. Ia menghimpun dan mengalihbahasakan langsung dari bahasa aslinya (Cina klasik) ke bahasa Indonesia, dengan sangat luarbiasa.</p>
<p>Setidaknya hingga saat ini, buku inilah yang paling representatif menghadirkan karya-karya terbaik dari jagat perpuisian Tiongkok klasik yang terentang dari zaman Dinasti Zhou (1066?-256SM) sampai kerajaan terakhir yakni Dinasti Qing (1616-1911). Untuk pembaca yang sama sekali buta akan keberadaan puisi Tiongkok klasik, penerjemah bermurah hati menuliskan berbagai hal berkaitan dengan puisi dan kondisi masyarakat Tiongkok yang melatar belakangi lahirnya karya puisi. Tulisan cukup panjang yang terangkum dalam bab Pendahuluan tersebut, memuat hal-hal yang sangat membantu kita untuk mengetahui lebih dalam tentang posisi puisi dalam masyarakat Tiongkok kuno, perjalanan sejarah negeri Tiongkok, dan jenis puisi yang banyak ditulis para penyairnya. Dan pada bagian lain, tercantum juga biografi singkat 17 tokoh penyair penting dalam dunia kepenyairan Tiongkok klasik.</p>
<p>Kian lengkap, karena buku ini juga diawali dengan pengantar Leo Suryadinata yang dengan detil menguji kualitas penerjemahan Zhou Fuyuan, dan membuat kita percaya bahwa Zhou Fuyuan lebih mampu mengalihbahasakan puisi Tiongkok klasik ini dibanding penerjemah terdahulu. Lewat beberapa contoh yang diuraikan, kita selanjutnya bisa tenang membaca satu persatu judul puisi tanpa takut disesatkan oleh buruknya penerjemahan, sebagaimana seringkali kita hadapi saat membaca buku-buku sastra terjemahan akhir-akhir ini.</p>
<p>Yang sangat menarik, Zhou Fuyuan menghidangkan puisi-puisi terjemahannya ini dengan disertai juga catatan kaki mengenai situasi yang dialami sang penyair ketika menuliskan puisi tersebut. Hal ini ia lakukan untuk puisi yang memang butuh keterangan tentang latar budaya khas dan situasi politik yang tengah berlangsung dan menjadi latar lahirnya puisi tersebut. Hal ini penting karena banyak penyair Tiongkok klasik yang juga menjadi bagian dari kekuasaan sebuah dinasti, atau juga terlibat dalam pergolakan politik.<br />
Misalnya pada sebuah puisi pendek karangan Jing Ke (?-227SM) berjudul &#8220;Nyanyian Sungai Yi&#8221;. Isi puisinya demikian: <em>Angin menderu-deru oh dinginnya Sungai Yi, / sekali bertolak oh Satria takkan pulang kembali!//.</em> Untuk puisi ini penerjemah menyisipkan catatan kaki: Jing Ke diberi tugas rahasia melaksanakan pembunuhan terhadap Raja Qin. Pangeran Yun dan para sahabat dekat berpakaian serba putih, melepas keberangkatan di tepi Sungai Yi. Sadar baik sukses maupun gagal tak akan lolos dari kematian, saat berpamitan Jing Ke melantunkan lagu ini. (Hal. 25).</p>
<p>Demikian, buku yang ulasan penutupnya ditulis oleh Sapardi Djoko Damono ini, tak hanya memberi kita bahan apresiasi, tapi juga sebuah karya lengkap yang akan membuat ruhani kita menjadi semakin berisi. <em>(Nazaruddin Azhar)</em>***</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/setapakjalan.wordpress.com/22/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/setapakjalan.wordpress.com/22/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/setapakjalan.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/setapakjalan.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/setapakjalan.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/setapakjalan.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/setapakjalan.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/setapakjalan.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/setapakjalan.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/setapakjalan.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/setapakjalan.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/setapakjalan.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/setapakjalan.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/setapakjalan.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/setapakjalan.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/setapakjalan.wordpress.com/22/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=setapakjalan.wordpress.com&amp;blog=1481606&amp;post=22&amp;subd=setapakjalan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://setapakjalan.wordpress.com/2007/09/03/keindahan-puisi-tiongkok-klasik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cad689bfd03d35eb36c761faedba2e2b?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">nazaruddin azhar</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://setapakjalan.files.wordpress.com/2007/09/10kaver.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">10kaver.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Acep Zamzam Noor Jadi Penyair Lagi&#8230;</title>
		<link>http://setapakjalan.wordpress.com/2007/09/03/acep-zamzam-noor-jadi-penyair-lagi/</link>
		<comments>http://setapakjalan.wordpress.com/2007/09/03/acep-zamzam-noor-jadi-penyair-lagi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Sep 2007 03:42:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nazaruddin azhar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku Bagus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://setapakjalan.wordpress.com/2007/09/03/acep-zamzam-noor-jadi-penyair-lagi/</guid>
		<description><![CDATA[Judul buku : Menjadi Penyair Lagi… Penulis : Acep Zamzam Noor Pengantar : Dr. Mikihiro Moriyama Penerbit : Pustaka Azan, cet. pertama April 2007 Tebal : 107 + xvi PUISI cinta, seperti juga lagu cinta, masih akan tetap jadi sesuatu yang menyenangkan saat kita membaca dan menikmatinya. Meski pada dasarnya puisi tersebut adalah catatan personal [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=setapakjalan.wordpress.com&amp;blog=1481606&amp;post=20&amp;subd=setapakjalan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://setapakjalan.files.wordpress.com/2007/09/10-resensi.jpg" title="Tautan langsung ke berkas"><img src="http://setapakjalan.files.wordpress.com/2007/09/10-resensi.thumbnail.jpg?w=226&#038;h=155" alt="10-resensi.jpg" height="155" width="226" /></a></p>
<p>Judul buku        : <strong>Menjadi Penyair Lagi…</strong><br />
Penulis              : Acep Zamzam Noor</p>
<p>Pengantar : Dr. Mikihiro Moriyama</p>
<p>Penerbit            : Pustaka Azan, cet. pertama April  2007<br />
Tebal                : 107 + xvi</p>
<p><strong>PUISI </strong>cinta, seperti juga lagu cinta, masih akan tetap jadi sesuatu yang menyenangkan saat kita membaca dan menikmatinya. Meski pada dasarnya puisi tersebut adalah catatan personal penyairnya atas suatu pengalaman yang ia alami, tapi sifat dasar puisi yang terbuka untuk diberi tafsir, diimbuhi dengan gerak batin pembaca atas pengalaman personalnya sendiri, maka puisi adalah sebuah pesona di mana setiap orang bisa melebur di dalamnya.</p>
<p>Membaca puisi cinta, adalah membaca kehidupan itu sendiri. Puisi yang baik, akan selalu punya sihir kata yang mampu melibatkan perasaan pembacanya. Kadang juga seperti halnya cinta, ia akan menuntut kita melangkah lebih jauh dari sekedar memahami kata per kata yang tercetak pada lembaran kertas. Ia akan membawa kita pada kembara tanpa batas, melintasi sekat makna atas pengertian harfiah dari variabel yang menjadi bagian integral perasaan cinta yang biasa; rindu, kenangan, kesepian, harapan, dll. Di tangan penyair, kata cinta menjadi berkah bagi semua orang.</p>
<p>Demikian halnya saat membaca kumpulan puisi berjudul “Menjadi Penyair Lagi…” ini. Judul yang mencitrakan sebuah titik tolak baru bagi sang penyair untuk kembali kepada peran kepenyairannya. Dan sang penyair, Acep Zamzam Noor, tidak lantas menyodorkan puisi-puisi yang bisa kita anggap fase terbaru dari kepenyairannya pasca kumpulan puisi terdahulu, ia malah mengajak kita kembali ke ranah cinta yang diuraikan dengan sederhana, cinta yang menyimpan ketulusannya yang murni, dengan bahasa yang kadang menggeliat pejal, kadang meronta, dan kadang tenang seakan sebuah bisikan dengan rima yang terjaga, dan karenanya terasa menghanyutkan.</p>
<p>Dengarlah salah satu bisikan itu: <em>Sebuah lagu mengalun/Mengantarkanmu pada sepi ini/Barangkali kaulah yang bersenandung/Dan menyeretku ke hutan puisi//Sebuah senyum terkulum/Telah membangkitkan rinduku/Barangkali kaulah yang tersenyum/Dan melemparkanku ke belantara lagu// </em>(Sebuah Lagu, hal. 11).</p>
<p>Dalam kumpulan terbarunya ini, dari 53 sajak pada bagian pertama berjudul “Ada yang Belum Kuucapkan”, di antaranya Acep menghidangkan puisi-puisi awal kepenyairannya yang sebagian besar belum dibukukan, dari rentang penulisan antara 1978 sampai 1989. Dan pada bagian kedua yang berjudul “Menjadi Penyair Lagi” terangkum 38 sajak dari rentang penulisan 1990 sampai 2006.</p>
<p>Membaca kumpulan puisi ini, kita seakan tengah menikmati potret yang merekam sisi “paling sensitif” dari kehidupan cinta penyairnya yang liar sekaligus romantik, yang tegar maupun yang melankolik. Cinta yang bermuara pada sekian nama perempuan, maupun cinta yang menyuarakan keperihan eksistensial yang menukik pada makna yang lebih dalam. Meski bertabur kata sepi, rindu, dan variabel cinta lainnya, pada dasarnya, sebagaimana tergambar dalam sampul buku ini yang menampilkan bocah laki-laki telanjang sedang tersenyum dan dengan tangan menyembunyikan kelaminnya, puisi-puisi dalam kumpulan ini seakan memberi gambaran kepolosan, kejernihan dari pemaknaan serangkaian kenangan dan harapan yang dimiliki penyair atas cinta yang dimilikinya untuk sang kekasih, baik kekasih dengan “K” besar, maupun kekasih dengan “k” kecil.<br />
Sebagaimana tersurat dalam puisi pertama bertajuk “Prelude” , Acep hanya ingin mengajak kembali pembaca menyelami hakikat cinta yang kini kian menjadi “barang langka” dalam keseharian kita yang tengah jadi arena pertarungan beragam kepalsuan.  Ia mengajak kembali ke dalam puisi sebagai salah satu wilayah di mana kita akan selalu mendapatkan kata dan makna cinta yang masih murni. Karena katanya, “..<em>Sajak adalah harapan/…adalah danau tenang/..//Ini sajak manis untukmu/Semanis rindu/Teguklah bersama waktu// </em>*</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/setapakjalan.wordpress.com/20/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/setapakjalan.wordpress.com/20/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/setapakjalan.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/setapakjalan.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/setapakjalan.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/setapakjalan.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/setapakjalan.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/setapakjalan.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/setapakjalan.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/setapakjalan.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/setapakjalan.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/setapakjalan.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/setapakjalan.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/setapakjalan.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/setapakjalan.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/setapakjalan.wordpress.com/20/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=setapakjalan.wordpress.com&amp;blog=1481606&amp;post=20&amp;subd=setapakjalan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://setapakjalan.wordpress.com/2007/09/03/acep-zamzam-noor-jadi-penyair-lagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cad689bfd03d35eb36c761faedba2e2b?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">nazaruddin azhar</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://setapakjalan.files.wordpress.com/2007/09/10-resensi.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">10-resensi.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>cerpen nazaruddin azhar</title>
		<link>http://setapakjalan.wordpress.com/2007/08/16/cerpen-nazaruddin-azhar-2/</link>
		<comments>http://setapakjalan.wordpress.com/2007/08/16/cerpen-nazaruddin-azhar-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Aug 2007 07:17:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nazaruddin azhar</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://setapakjalan.wordpress.com/2007/08/16/cerpen-nazaruddin-azhar-2/</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah Pasar Malam Hidup yang selalu tak terduga mempertemukan kami lagi di sebuah pasar malam. Wajahnya tetap cantik. Dalam dandanan simpel tampak semakin menarik. Entah kata apa yang pertama meluncur dari mulutnya. Dan aku hanya bisa mengangguk kemudian bengong. Selentik cahaya dari matanya tiba-tiba membakar hangus kalimat yang seharusnya kuucapkan. Ia tertawa, merangkulku. Agak lama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=setapakjalan.wordpress.com&amp;blog=1481606&amp;post=16&amp;subd=setapakjalan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sebuah Pasar Malam</strong></p>
<p>Hidup yang selalu tak terduga mempertemukan kami lagi di sebuah pasar malam. Wajahnya tetap cantik. Dalam dandanan simpel tampak semakin menarik.<br />
Entah kata apa yang pertama meluncur dari mulutnya. Dan aku hanya bisa mengangguk kemudian bengong. Selentik cahaya dari matanya tiba-tiba membakar hangus kalimat yang seharusnya kuucapkan. Ia tertawa, merangkulku. Agak lama tubuhnya kupeluk di tengah jubelan orang-orang yang tak kami pedulikan. Kami seakan langsung terpisah dengan semua orang yang ada di tempat ini. Musik hingar. Berbagai irama campur baur dari berbagai stan yang membanting harga jualannya dengan berbagai bualan. Anak-anak menjerit riang dari atas komidi putar. Suara penyanyi dangdut dengan cengkok murahan, bergoyang panas di atas panggung. Copet. Tukang sulap spesial sendok bengkok. Tukang balon. Penjual empedu ular kobra. Pemuda-pemuda jomblo. Bau pesing. Janda beralis ekor tikus. Topeng-topeng. Penjahat pantat. Tumplek semua dan seluruhnya terpisah dari dunia kami berdua.<br />
Ia menatapku, &#8220;Kamu tak banyak berubah…&#8221;<br />
Tatap mataku mengelak. Kupikir aku tak sama persis dengan aku yang dulu sering ia jumpai di sebuah kamar kontrakan, lewat tengah malam.<br />
&#8220;Ya, sekarang kamu klimis. Tanpa janggut dan kumis kamu lebih manis, loh. Tapi tetep jantan…&#8221; Ia dengan lembut menekankan telunjuknya di dadaku. Aku tersipu. Sesuatu yang tak pernah mampir di wajahku dulu. Banyak orang bilang dulu aku nyaris tak pernah tertawa. Aku tak peduli. Aku tak tahu apa yang harus ditertawakan. Semua melulu keasingan dan kemualan.<br />
&#8220;Tampaknya kita harus mencari tempat. Maksudku, untuk sekedar ngobrol melepas kangen…&#8221;<br />
Ditariknya lenganku. Menyeruak di antara desakan manusia-manusia berbagai rupa. Ia membawaku ke sebuah warung bakso. Bau bakso yang bagiku lebih mirip bau daging mentah sebenarnya selalu membuat aku mual, tapi kutahan saja. Aku duduk dan ia memesan dua botol Fanta.<br />
&#8220;Nyaris sepuluh tahun, &#8221; katanya. Lalu setelah berpikir sejenak, ia bertanya, &#8220;Nyaris atau bahkan lebih, ya?&#8221;<br />
&#8220;Tepat sepuluh tahun,&#8221; jawabku tanpa keinginan untuk memikirkan kebenaran ucapanku.<br />
&#8220;Yeah, waktu begitu cepat melesat. Ke mana saja kamu?&#8221;<br />
Kini aku memang harus berpikir. Lalu, &#8220;Aku mencoba bertani di sebuah desa..&#8221;<br />
&#8220;Bertani?&#8221; ia meraih tanganku, meneliti telapak dan jari-jariku. Menggeleng. Tertawa. &#8220;Bertani apa? Aku tak melihat sedikitpun tangan seorang petani…&#8221;<br />
Kutarik tanganku. Mencoba untuk menertawakan kebohonganku sendiri. Ia sendiri tak peduli, dan dengan lekat menatapku. Matanya menyipit.<br />
Gila. Mata lewat tengah malam itu. Mata yang selalu datang dari kegelapan itu. Sepuluh tahun lalu. Atau mungkin belasan tahun lalu. Aku mendapati sorot matanya kembali, malam ini.<br />
&#8220;Kamulah yang tak berubah…&#8221;<br />
Ia tertawa agak keras. Dua orang yang duduk di meja lain menoleh.<br />
&#8220;Aku telah punya seorang anak,&#8221; katanya.<br />
&#8220;Menikah?&#8221;<br />
Ia menggeleng. Fanta merah yang baru saja diminumnya semakin memerahkan bibirnya. &#8220;Aku tiba-tiba saja ingin punya anak, dan lahirlah dia. &#8220;<br />
&#8220;Kenapa?&#8221; Tiba-tiba saja aku menangkap keganjilan pada nada kalimatnya.<br />
&#8220;Ya, aku pikir ada baiknya juga aku menjadi perempuan seperti perempuan lain. Punya anak. Menyusui. Ngurus sampai gede.&#8221;<br />
Aku tertawa mencelos. Dan tindakanku ini membuat alisnya sedikit terangkat. Kutepiskan lengan aku-tertawa-bukan-untuk-apa-apa.<br />
&#8220;Aku sangat menikmati peranku sebagai ibu..&#8221;<br />
&#8220;Ya. Ya. Lalu…&#8221;<br />
&#8220;Pekerjaanku? Yeah, aku mencoba untuk meninggalkan pekerjaan itu. Tapi ketika apapun pekerjaan lain yang kukerjakan selalu gagal, aku kembali lagi. Aku harus menghidupi anakku.&#8221;<br />
Sangat sulit untuk menghindarkan mimik ketidakmengertian dari wajahku; aku tersenyum.<br />
&#8220;Mungkin bisa kukatakan aku beruntung ada seseorang yang kemudian membiayai kebutuhanku, hingga aku bisa berhenti dari pekerjaanku itu,&#8221; katanya sambil merendahkan nada suaranya.<br />
&#8220;Seseorang?&#8221;<br />
Ia mengangguk. &#8220;Dia yang memenuhi kebutuhan kami. Aku dan anakku. Aku pun ke kota ini karena dia ngajak. Dia orang penting di pemerintahan, dan selama satu minggu dia ada di kota ini untuk pekerjaan entah apa…&#8221;<br />
Aku mencoba untuk menata kekacauan yang diakibatkan pikiranku yang kemudian simpang-siur. Tak pernah terpikirkan malam ini aku akan bertemu lagi dengannya. Di kota yang jauh dari kota tempat dulu kami sering bertemu. Ya, tidak terlalu sering memang. Tapi begitu banyak malam yang pernah kulewati bersamanya dalam kegilaan. Ia punya pesona yang selalu menentramkan perasaan kacauku. Selalu, setelah kuselesaikan setiap pekerjaan, aku akan mencarinya. Dan ia lebih dari sekedar melayani napas liarku. Dulu. Entah berapa tahun lalu.<br />
&#8220;Kamu sendiri bagaimana?&#8221;<br />
Aku terkejut dan kupalingkan mataku dari matanya.<br />
&#8220;Aku berharap kamu sudah benar-benar mendapatkan pekerjaan lain,&#8221; katanya.<br />
&#8220;Kamu sudah berhenti dari pekerjaanmu itu kan?&#8221; kali ini terdengar suara benar-benar penuh harap.<br />
Aku mengangguk, &#8220;Ya, aku tak ingin mengalami nasib sial seperti kawanku yang lain,&#8221; dustaku.<br />
&#8220;Aku baca di koran, banyak yang tertangkap dan dihukum mati,&#8221; katanya dengan nada hati-hati. Ia tentu masih berpikir bahwa sejak dulu aku pengedar obat terlarang seperti dustaku padanya. Ia tak tahu pekerjaanku yang sebenarnya.<br />
&#8220;Begitulah. Ah, ya, aku tak pernah bermimpi kita bisa bertemu lagi apalagi di tempat seperti ini…&#8221;<br />
&#8220;Kalau aku jujur saja sangat berharap bertemu kamu..&#8221;<br />
&#8220;Maksudku, tak terpikirkan kita bisa bertemu malam ini, di sini…&#8221;<br />
&#8220;Aku ke sini karena aku sudah lama sekali tak berada di tengah keramaian. Dan sangat mengejutkan kulihat kamu tadi di antara jubelan orang-orang…&#8221;<br />
&#8220;Ya, kupikir kita punya kesamaan. Entah kenapa aku tertarik ke tempat ini…&#8221;:<br />
&#8220;Kamu tak bertanya…&#8221;<br />
Setelah sejenak kupikirkan, &#8220;Tentang mengapa kamu sangat berharap bertemu aku?&#8221;<br />
Ia mengangguk.<br />
&#8220;Kenapa?&#8221; Aku tak mencoba lebih jauh menebak-nebak.<br />
Ia tak segera menjawab. Setelah menatapku agak lama, ia mengambil dompet dari saku celana jins yang dipakainya. Ia memperlihatkan sebuah potret.<br />
&#8220;Peristiwa ini telah kuimpikan sejak anakku lahir…&#8221; Dompet di tangannya bergetar. Aku mengambilnya. Kuperhatikan. Anak perempuan itu tersenyum manis. Ada yang berdesir hangat di pergelangan tanganku. Kutatap kembali wajahnya.<br />
&#8220;Sudah kukira. Kamu tak akan mengenalnya…&#8221;<br />
Mataku melebar gugup.<br />
&#8220;Aku tak terlalu berharap kamu mengakuinya. Tapi setelah kita sering berhubungan, aku berhenti dari pekerjaanku. Setiap saat aku menunggu kamu, terutama setelah aku tahu aku mengandung. Tapi kamu tak kunjung datang…&#8221;<br />
Kelebat berbagai peristiwa mengalir deras di otakku. Inilah. Setelah seorang direktur perusahaan besar tewas di ujung pistolku, aku menghilang. Lebih dari sepuluh tahun hingga aku bisa kembali ke tempat seperti ini, sekaligus juga ke pekerjaanku yang tak ia ketahui. Kini semuanya seakan berputar dan aku terpental jauh ke dunia yang tak pernah kuimpikan.<br />
Aku mencari-cari jawaban di sorot matanya yang kini basah. Aku mendapatkannya. Kukira, ia tak akan pernah bersikap seperti ini hanya untuk menyampaikan hal yang tak ada artinya. Tangannya kuraih dan aku benar-benar mendapati diriku sendiri sangat tak berarti.<br />
Ia melepaskan tangannya. Mendorong potret itu ke depanku. Aku mengambilnya dan kutatap wajah anak itu. Entah kenapa, kini aku seperti berhadapan dengan sebuah cermin besar, tempat di mana aku bisa dengan jelas menilai kebusukanku sendiri.<br />
Tiba-tiba terdengar suara ponsel. Ia mengambil ponselnya dan berbicara kepada seseorang di seberang sana dengan mulut ditutup tangan.<br />
&#8220;Ia telah menungguku di hotel tempat kami menginap. Aku harus pulang,&#8221; katanya kemudian setelah menyimpan ponsel dan dompetnya ke dalam saku.<br />
&#8220;Di hotel mana?&#8221; tanyaku segera. Potret kumasukkan ke saku jaketku.<br />
&#8220;Istana Hotel,&#8221; katanya sambil berdiri lalu melambai pada penunggu warung. Aku membayar apa yang kami minum, lalu ke luar.<br />
&#8220;Istana Hotel?&#8221;<br />
&#8220;Hmm. Cuma hotel itu yang biasa disinggahi pejabat penting di kota ini.&#8221;<br />
&#8220;Ppejabat penting? Yang bersama kamu?&#8221;<br />
Langkahnya terhenti, berpaling padaku seakan tengah mengulang beribu adegan sama dari masa lalu, &#8220;Ya, dia yang selama ini menghidupi kami berdua. Kamu tak harus tahu orangnya. Dan, aku sangat berharap suatu saat kita bisa bertemu lagi…&#8221;<br />
&#8220;Aku akan mencarimu ke hotel, besok…&#8221;<br />
Ia tak menjawab. Kami menyeruak di antara manusia-manusia yang menghabiskan malam di keramaian ini. Tiba di jalan, ia memanggil becak dan pergi. Sejenak ia menatapku, lalu tanpa sepatah pun ia lalu menghilang dari mataku.<br />
Tiba-tiba sebuah perasaan aneh menyergap ulu hatiku. Istana Hotel. Seorang pejabat penting. Itulah sebenarnya alasanku kenapa ada di kota kecil ini. Aku tiba-tiba sangat mual dan ingin muntah. Pistol kecil yang terikat di balik kaus kakiku, tiba-tiba terasa begitu berat. Sangat berat.***</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/setapakjalan.wordpress.com/16/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/setapakjalan.wordpress.com/16/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/setapakjalan.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/setapakjalan.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/setapakjalan.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/setapakjalan.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/setapakjalan.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/setapakjalan.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/setapakjalan.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/setapakjalan.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/setapakjalan.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/setapakjalan.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/setapakjalan.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/setapakjalan.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/setapakjalan.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/setapakjalan.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=setapakjalan.wordpress.com&amp;blog=1481606&amp;post=16&amp;subd=setapakjalan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://setapakjalan.wordpress.com/2007/08/16/cerpen-nazaruddin-azhar-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cad689bfd03d35eb36c761faedba2e2b?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">nazaruddin azhar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>cerpen nazaruddin azhar</title>
		<link>http://setapakjalan.wordpress.com/2007/08/14/cerpen-nazaruddin-azhar/</link>
		<comments>http://setapakjalan.wordpress.com/2007/08/14/cerpen-nazaruddin-azhar/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Aug 2007 09:54:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nazaruddin azhar</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://setapakjalan.wordpress.com/2007/08/14/cerpen-nazaruddin-azhar/</guid>
		<description><![CDATA[Dylan …Silhuetted by the sea Circled by the circus sands With all memory and fate Driven deep beneath the waves Let me forget about today Until tomorrow… Dylan bernyanyi, mendekap gitar dengan wajah yang sepenuhnya tertunduk, seakan di hadapannya berdiri seseorang yang pandangannya tak mampu ia tentang. Mungkin wujud selain dirinya, yang datang dari luar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=setapakjalan.wordpress.com&amp;blog=1481606&amp;post=13&amp;subd=setapakjalan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Dylan</strong></p>
<p><em>…Silhuetted by the sea<br />
Circled by the circus sands<br />
With all memory and fate<br />
Driven deep beneath the waves<br />
Let me forget about today<br />
Until tomorrow…</em></p>
<p>Dylan bernyanyi, mendekap gitar dengan wajah yang sepenuhnya tertunduk, seakan di hadapannya berdiri seseorang yang pandangannya tak mampu ia tentang. Mungkin wujud selain dirinya, yang datang dari luar kenangan dan membawa kesedihan yang minta ia fahami. Atau mungkin wujud dirinya yang lain, yang datang dengan lumpur mengental di kedua langkahnya, dengan aroma kenangan yang hitam. Dylan memanggilnya Mr. Tambourine Man. Dan ia menyanyikan keinginan untuk mendengar dia bernyanyi.<br />
Mungkin sebuah penghiburan atau kemabukan lain yang diharapkan mampu meredakan kelam nasib, yang telah membuatnya begitu dalam tertunduk, di hadapan beribu kamera yang tengah merekam detak jantungnya untuk ia saksikan kelak, di sebuah kehidupan yang menunggu, jauh di luar senandung sebuah lagu yang murung.</p>
<p>Orang-orang tepuk tangan.</p>
<p>***<br />
Tepuk tangan itu bergema di telingaku, lalu lenyap saat kembali kulewati jalan ini. Sepi menggantung di langit meneteskan getahnya ke leherku. Malam bagai terus menyembunyikan sebuah pesta rahasia di luar diriku. Dan di antara tiang-tiang listrik<br />
yang redup, kulihat orang-orang bersayap kelabu melambaiku. Aku melewati mereka sambil menenteng sebuah gitar tua yang bisu. Sedang dari jendela-jendela rumah yang terang, mereka yang masih mengenakan topeng anjing terbahak untuk seluruh kemualanku. Melintasi tikungan, menghitung muntahanku sendiri yang kering di atas trotoar. Beratus malam telah kumamah kata-kata yang sama, dan kuludahkan sebagai sajak-sajak kelam yang tak menjelaskan apa-apa.<br />
Seorang malaikat termangu dekat sebuah gardu yang kosong. Kulihat tak ada pelacur yang biasa meminta api rokokku, sambil sedikit membuka ketiaknya yang mengkilap. Tak ada desis suara basahnya yang biasa. Tak ada kerjapan menggoda dari sepasang<br />
matanya yang semakin hari semakin tampak menguning itu. Alisnya yang runcing, lipstik murahan dan wangi parfum kelas kios pinggir jalan. Tak ada. Pelacur itu kemarin malam ditemukan di sebuah got di pinggiran kota oleh seorang hansip yang biasa<br />
kencing di situ. Ia telah menjadi mayat dengan bekas pukulan di batok kepalanya.</p>
<p>Aku bersendawa karena tiba-tiba ada segumpal angin mendorong keras dari lambungku. Berusaha bersiul dan teringat pada malaikat yang tadi termangu. Ia sudah tak ada. Kukira ia telah pergi ke sebuah tempat lain, memanjatkan doa untuk orang-orang<br />
yang terabaikan. Kutahu ini hanyalah imajinasiku belaka, bahwa malaikat itu demikian berbahagia karena ia selalu akan menjalankan tugasnya dalam kesedihan tak terhingga. Kesedihannya yang dalam pada orang-orang yang bahkan tak mengenal<br />
dirinya, sebagai pelayan Tuhan. Suatu saat ia akan datang pula padaku. Mungkin akan mengetuk pintu kamarku perlahan, dan dengan kesopanan yang terjaga akan menatapku yang lungkrah di atas ranjang. Kami akan saling bertatapan, dan ia akan<br />
membisikkan doa-doa terpanjang untuk ketentramanku. Mungkin dalam sebentuk nyanyian atau senandung yang pilu sekaligus syahdu. Akan kupejamkan mata di bawah sentuhan nafasnya, sambil kukenangkan seorang perempuan tua dengan wajah merapuh<br />
menunggu dengan pintu yang selalu terbuka lebar. Angin yang tak pernah keliru menjatuhkan kalakay daun jambu di halaman, di atasnya langkahku mengertap dan lalu sebuah kenyataan lindap ke dalam waktuku. Dengan kebencian sepenuh cinta, kurangkul ia.</p>
<p>Ibu! Ibu!<br />
Tapi di depan kamarku tak ada siapapun. Bau karat handel pintu menempel ke telapak tanganku yang dingin. Kunyalakan lampu.</p>
<p>Gitar kusandarkan. Botol-botol kosong berserak di atas ranjang. Ke atas meja bayanganku memanjang, ke banyak kertas telanjang. Gelas-gelas berisi jentik nyamuk. Dengan sepasang sepatu yang semakin memberat kubaringkan tubuhku, setelah botol-botol itu kusingkirkan dan sebagian pecah di ubin. Di langit-langit kembali kulihat sepanjang jalan yang kulewati. Tiang-tiang listrik yang murung. Jendela-jendela yang<br />
menyusut dan topeng-topeng anjing yang dilemparkan ke trotoar, ke atas ludahku. Sebagian masih kudengar menggonggong saat aku melewati gardu yang kosong.</p>
<p>Sesaat kuingat malaikat itu menoleh padaku. Apakah ia tersenyum atau tidak, aku tak tahu. Tapi bisa kusimpulkan bahwa kesedihannya tengah teramat sangat, dan bahkan ia tak berkeinginan untuk menyapaku. Seharusnya kujabat tangannya tadi, atau sekalian kunyanyikan sebuah balada untuknya, tentang apapun yang seharusnya kusampaikan padanya. Atau mungkin hanya sebuah sentuhan perkenalan. Apakah ia masih di sana sekarang? Kalau pun tadi ia menghilang, tentulah untuk kembali lagi sekarang. Begitulah. Ia akan kujumpai lagi tengah termangu sendirian.</p>
<p>Aku kembali bangkit dan dengan tenaga yang kudapatkan tiba-tiba, aku telah berdiri tegak. Kusambar gitarku dengan kegelisahan yang meluap.<br />
Tapi sesuatu kemudian terinjak di antara pecahan botol yang berserakan. Aku menatapnya. Sebuah kutang kuning muda. Aku mengambilnya dan segera saja bisa kuhirup wangi dada perempuan itu. Sepasang dada yang sudah tak begitu subur dengan sepasang puting kehitaman. Tapi ke sanalah selalu kubenamkan mukaku, mengalihkan segenap kemuakan dan menghirup udara tawar dari kesamaran waktu. Memasuki masa lalu dengan kesenangan yang musykil, kuhisap puting-puting itu. Perempuan itu tertawa dan menamparku. Dia lalu akan terguling ke atas tubuhku, tapi aku selalu punya kekuatan untuk kembali merebut dadanya.</p>
<p>Kukoyak-koyak ia, kumamah ia, kumuntahkan seluruh asin nyawaku. Ia memekik dan lalu menghantamku bertubi-tubi. Tawanya membuat seluruhnya menjadi bara, begitu panas dan menghanguskan.</p>
<p>Ketika semuanya usai dan tinggal lelatu memenuhi ruang sempit kamar ini, ia akan memandangku dengan tatapan yang paling kukenal.<br />
“Aku bukan ibumu, dan kenapa kau selalu ingin menyusu padaku?”<br />
“Karena ia juga pelacur sepertimu.”<br />
Ia lalu akan tahu isi pikiranku. Sebentuk wajah di keremangan, selalu kutatap dari sebuah ruangan tempat aku dibesarkan. Wajah itu selalu hadir di pinggiran jalan berdebu, ketika menjelang malam. Tak seorang pun peduli apa yang ingin kuteriakkan.</p>
<p>Ibu! Ibu! Tak ada siapapun yang lalu ingin memungutku.</p>
<p>Di atas ranjang ini ia lalu selalu memintaku menyanyikan lagu itu. Dengan perasaan yang paling mabuk, ia menatapku. Alisnya yang runcing dan sebagian telah terhapus pipiku. Bibirnya yang belepotan lipstik akan tersenyum dan kemudian mengikutiku bernyanyi. Tapi kali ini ia hanya ingin mendengarku bicara, tanpa gitar, dan yang paling kuingat adalah larik-larik lagu itu:<em> Terbayangi oleh laut. Dilingkari oleh sirkus pasir. Dengan segenap kenangan dan nasib terdorong jauh ke bawah gelombang. Biarkan aku melupakan hari ini sampai besok…</em></p>
<p>Ia lalu bertepuk tangan. Menghisap rokok dalam-dalam.<br />
“Mengapa selalu Dylan?”<br />
“Karena kamu selalu minta lagu itu…”<br />
“Ya, ya, mengapa selalu lagu itu? Seseorang pernah selalu menyanyikan lagu itu dulu di depanku, sebelum ia pergi sebagai anjing. Aku menyukainya, tentu saja, seperti halnya aku menyukaimu. Jadi nyanyikanlah terus lagu itu…”<br />
Aku menatap keringat di hidungnya.<br />
“Kamu tak usah cemburu, kamu lebih baik darinya. Itu yang ingin kukatakan…”<br />
Aku menatap setitik keringat meluncur dari hidungnya. Ia tertawa. Meracau semalaman. Dan pada seluruh kejadian, lewat mataku yang nanar wajah di keremangan itu seringkali kulihat berkelebat di sepasang mata dan buah dadanya. Tapi ketika aku kemudian terbangun di pagi yang lain, di saat kuinginkan masih bisa kudekap tubuhnya, ia selalu telah menghilang. Aku melewati jalanan itu kembali. Jalanan yang beribu kali kulewati.</p>
<p>Aku benar-benar ingin melupakan semua kekonyolan yang telah lama menyiksaku. Tapi di gardu itu tak ada siapapun. Tak ada malaikat yang termangu. Tak ada doa-doa. Aku berdiri sebentar, dan kurindukan perempuan itu. Kurindukan buah dadanya. Kurindukan pekiknya yang mirip anjing kesakitan hingga aku tak dapat menahan dadaku, aku muntah-muntah sampai terasa tak ada lagi yang harus kumuntahkan.<br />
Kulewati lagi kesepian itu. Kegelapan di sepanjang jalan membuat langkahku sedikit agak ringan. Kuusap keringat di leherku.</p>
<p>Kugenggam tubuh gitar dan kurasakan beberapa bagian yang retak. Tak ada yang ingin kulakukan, selain tiba-tiba mengharapkan seseorang yang mampu menjadi perempuan itu, mendengarku menyanyi malam ini. Dan dengan gitar di dekapan, aku menunduk ke hitam jalanan, menjadi Bob Dylan sebagaimana selalu kubayangkan saat kunyanyikan lagu ini.</p>
<p>“Lihat si Bob bernyanyi!” kudengar sebuah teriakan.<br />
“Mana?”<br />
“Itu dia, di bawah lampu tikungan!”<br />
“Aha, nyanyikanlah lagu itu, Bob!” yang lain menimpali. Suara yang cukup ramai itu mengawali denting gitarku. Hey, Mister Tambourine Man, Play a song for me…<br />
Mereka bertepuk. Memuji suara sengauku. Meminta mengulang lagu itu. Dan beberapa lembar ribuan melayang ke dekat kakiku. Aku tak peduli. Kupejamkan mata dan kunyanyikan lagu itu sekali lagi, sekian kali lagi.</p>
<p>Sesekali saku jaket kumalku tersentuh lengan yang memainkan gitar. Di dalamnya sebuah kutang terlipat rapi. Mungkin darah di beberapa bagian kutang itu, sekarang telah benar-benar kering.***</p>
<p>1997/2005<br />
<em>Dengan segenap hormat untuk Dylan dan Dylan</em></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/setapakjalan.wordpress.com/13/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/setapakjalan.wordpress.com/13/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/setapakjalan.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/setapakjalan.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/setapakjalan.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/setapakjalan.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/setapakjalan.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/setapakjalan.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/setapakjalan.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/setapakjalan.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/setapakjalan.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/setapakjalan.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/setapakjalan.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/setapakjalan.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/setapakjalan.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/setapakjalan.wordpress.com/13/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=setapakjalan.wordpress.com&amp;blog=1481606&amp;post=13&amp;subd=setapakjalan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://setapakjalan.wordpress.com/2007/08/14/cerpen-nazaruddin-azhar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cad689bfd03d35eb36c761faedba2e2b?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">nazaruddin azhar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>sajak nazaruddin azhar</title>
		<link>http://setapakjalan.wordpress.com/2007/08/14/sajak-nazaruddin-azhar/</link>
		<comments>http://setapakjalan.wordpress.com/2007/08/14/sajak-nazaruddin-azhar/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Aug 2007 09:45:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nazaruddin azhar</dc:creator>
				<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://setapakjalan.wordpress.com/2007/08/14/sajak-nazaruddin-azhar/</guid>
		<description><![CDATA[sebuah riwayat pendek Kanak-kanak abadi dengan sihir di diam matamu. Aku tak dari kerajaan manapun. Di kepalaku hanya ada usia tua. Mahkota yang perlahan tumbuh di antara sisa uban yang rapuh. Sungguh tak bisa kujelaskan. Di denyut urat kaki yang kian lemah ini, masih ada semacam perayaan untuk apa yang seharusnya kulupakan. Tanah-tanah kebebasan di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=setapakjalan.wordpress.com&amp;blog=1481606&amp;post=12&amp;subd=setapakjalan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>sebuah riwayat pendek </strong></p>
<p>Kanak-kanak abadi dengan sihir di diam matamu.<br />
Aku tak dari kerajaan manapun. Di kepalaku<br />
hanya ada usia tua. Mahkota yang perlahan tumbuh<br />
di antara sisa uban yang rapuh. Sungguh<br />
tak bisa kujelaskan. Di denyut urat kaki<br />
yang kian lemah ini, masih ada semacam perayaan<br />
untuk apa yang seharusnya kulupakan.<br />
Tanah-tanah kebebasan di mana kuda-kuda putih<br />
meloncat ke perdu malam, bau arpus di uap humus,<br />
kelontang genta di kejauhan. Sedang nyanyian<br />
yang menempuh bahagiaku dilantunkan seseorang<br />
yang sembunyi di antara rimbun kesedihan.</p>
<p>O, Kekasih yang berdiam di setiap rambu<br />
keterluntaanku. Kubayangkan pelukan penghabiskan<br />
akan menghanguskanku. Kutuliskan cemburuku<br />
di tiap lembar daun pintu yang kuketuk<br />
malam demi malam. Menceburkan jasad penyerahan<br />
pada cengkram ganasmu. Tapi kesunyian inikah<br />
yang kaumaksud dengan rindu?</p>
<p>Sebagai kekasih angin pernah kucumbu kehendak bebas<br />
yang menawanku. Dibelenggu kebahagiaan<br />
di balik rumpun mawar yang kelak layu.<br />
Kata-kata yang tak lagi mencemaskan.<br />
Bayangan kelabu yang disepuh keemasan.<br />
Cinta yang tak lagi menggetarkan &#8211;</p>
<p>O, manusia bodoh yang sembunyi<br />
ke balik jubah kepalsuan!<br />
Mengapa bangga atas kemabukan yang semu?</p>
<p><em>2005</em></p>
<p><strong>percintaan ini</strong></p>
<p>Kita saling memandangkan kehampaan<br />
seperti dua seteru<br />
yang kehilangan sebab pertikaian.<br />
Meski pada akhirnya kita tetap tak bisa<br />
saling memahami, toh tak ada alasan lagi<br />
untuk saling meninggalkan.</p>
<p>Kau menjadi karibku. Seperti arang sumbu<br />
pada genangan lilin panas, kita tak pernah bisa membuang<br />
perasaan yang pernah terbakar itu, yang menjadikan<br />
api penerang di sisa malam terasa kudus.</p>
<p>Percintaan ini tak mengulang apapun.<br />
Ketika cermin beriak dan sebuah ranjang dirapikan,<br />
kita akan tetap tak mengerti<br />
kenapa hasrat selalu terasa lebih suci<br />
di luar segala kenyataan</p>
<p><em>2004</em></p>
<p><strong>lolong</strong></p>
<p>Rehatlah sejenak. Reguklah darah murni televisi.<br />
Getah ranum kening sepi. Uap mata<br />
mayat yang dibakar massa. Letus senapan tanpa gema.<br />
Pelarian tanpa ujung<br />
yang membangun wujud asing dalam keliaran gelap.</p>
<p>Ciciplah amis nyawa jambangan kayu yang terbelah.<br />
Lupakan tubuh kerabat-kerabatmu.<br />
Keratlah sedikit saja.<br />
Dengan taburan garam ketegangan,<br />
musik muram dari ruang lengang pertanyaan;<br />
akan kaudapati wajahmu dalam piring hidangan;<br />
dunia singkat, sejumput muslihat dan ketakberdayaan</p>
<p>Dan akan kutulis surat untukmu di setiap jeda iklan<br />
sambil membayangkan kaulah pembaca berita itu,<br />
senyum yang memburu dan menyergapku,<br />
di antara mimpi-mimpi kuning langsat dan raung sirene,<br />
di sebelah nganga luka dan ruap ganas sampanye</p>
<p>O, betapa nikmat ketakutan!</p>
<p><em>2003</em></p>
<p><strong>sebelum mimpi dikekalkan</strong></p>
<p>Seberapa jauh jarak menepikan suara kita<br />
dari dua puncak gunung tempat batu-batu berdentang<br />
pada nyala kesunyian dan goa-goa mengendapkan<br />
isyarat sulur-sulur hitam?</p>
<p>Lembah telah menjadi danau.<br />
Sepasang rakit kosong dan riak seribu petang<br />
mengembarakan dongeng sebelum mimpi dikekalkan.<br />
Sedang usia telah melepuhkan tubuh kita,<br />
saat cuaca memadat pada setumpuk almanak<br />
dan seberkas tapak nyawa tertinggal<br />
di kalang sebuah pertaruhan!</p>
<p><em>2003</em></p>
<p><strong>dan engkau menyentuhku</strong></p>
<p>Seserpih penanggalan terapung jauh,<br />
jadi sehelai tikar yang luluh.<br />
Membawa sujud ke ladang-ladang.<br />
Ke tapak angin di pucuk-pucuk hanjuang</p>
<p>Di risik bambu haur saat sepenggalah matahari,<br />
lirik itu berpendar pada tiap tetes sunyi.<br />
Mungkin puisi. Atau pupuh<br />
yang terekam oleh sebuah ilusi</p>
<p>Dan engkau menyentuhku.<br />
Pada tapak pacul itu tertahan,<br />
sebuah riwayat<br />
yang kelak tumbuh dan merimbun</p>
<p><em>2005</em></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/setapakjalan.wordpress.com/12/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/setapakjalan.wordpress.com/12/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/setapakjalan.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/setapakjalan.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/setapakjalan.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/setapakjalan.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/setapakjalan.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/setapakjalan.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/setapakjalan.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/setapakjalan.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/setapakjalan.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/setapakjalan.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/setapakjalan.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/setapakjalan.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/setapakjalan.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/setapakjalan.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=setapakjalan.wordpress.com&amp;blog=1481606&amp;post=12&amp;subd=setapakjalan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://setapakjalan.wordpress.com/2007/08/14/sajak-nazaruddin-azhar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cad689bfd03d35eb36c761faedba2e2b?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">nazaruddin azhar</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
