puisi


gerimis

ada dan tiada

berbagi ruang dalam hatiku

saat kau menjelma gerimis

yang tak pernah kuduga

akan turun di senja itu

2007

sebuah riwayat pendek

Kanak-kanak abadi dengan sihir di diam matamu.
Aku tak dari kerajaan manapun. Di kepalaku
hanya ada usia tua. Mahkota yang perlahan tumbuh
di antara sisa uban yang rapuh. Sungguh
tak bisa kujelaskan. Di denyut urat kaki
yang kian lemah ini, masih ada semacam perayaan
untuk apa yang seharusnya kulupakan.
Tanah-tanah kebebasan di mana kuda-kuda putih
meloncat ke perdu malam, bau arpus di uap humus,
kelontang genta di kejauhan. Sedang nyanyian
yang menempuh bahagiaku dilantunkan seseorang
yang sembunyi di antara rimbun kesedihan.

O, Kekasih yang berdiam di setiap rambu
keterluntaanku. Kubayangkan pelukan penghabiskan
akan menghanguskanku. Kutuliskan cemburuku
di tiap lembar daun pintu yang kuketuk
malam demi malam. Menceburkan jasad penyerahan
pada cengkram ganasmu. Tapi kesunyian inikah
yang kaumaksud dengan rindu?

Sebagai kekasih angin pernah kucumbu kehendak bebas
yang menawanku. Dibelenggu kebahagiaan
di balik rumpun mawar yang kelak layu.
Kata-kata yang tak lagi mencemaskan.
Bayangan kelabu yang disepuh keemasan.
Cinta yang tak lagi menggetarkan –

O, manusia bodoh yang sembunyi
ke balik jubah kepalsuan!
Mengapa bangga atas kemabukan yang semu?

2005

percintaan ini

Kita saling memandangkan kehampaan
seperti dua seteru
yang kehilangan sebab pertikaian.
Meski pada akhirnya kita tetap tak bisa
saling memahami, toh tak ada alasan lagi
untuk saling meninggalkan.

Kau menjadi karibku. Seperti arang sumbu
pada genangan lilin panas, kita tak pernah bisa membuang
perasaan yang pernah terbakar itu, yang menjadikan
api penerang di sisa malam terasa kudus.

Percintaan ini tak mengulang apapun.
Ketika cermin beriak dan sebuah ranjang dirapikan,
kita akan tetap tak mengerti
kenapa hasrat selalu terasa lebih suci
di luar segala kenyataan

2004

lolong

Rehatlah sejenak. Reguklah darah murni televisi.
Getah ranum kening sepi. Uap mata
mayat yang dibakar massa. Letus senapan tanpa gema.
Pelarian tanpa ujung
yang membangun wujud asing dalam keliaran gelap.

Ciciplah amis nyawa jambangan kayu yang terbelah.
Lupakan tubuh kerabat-kerabatmu.
Keratlah sedikit saja.
Dengan taburan garam ketegangan,
musik muram dari ruang lengang pertanyaan;
akan kaudapati wajahmu dalam piring hidangan;
dunia singkat, sejumput muslihat dan ketakberdayaan

Dan akan kutulis surat untukmu di setiap jeda iklan
sambil membayangkan kaulah pembaca berita itu,
senyum yang memburu dan menyergapku,
di antara mimpi-mimpi kuning langsat dan raung sirene,
di sebelah nganga luka dan ruap ganas sampanye

O, betapa nikmat ketakutan!

2003

sebelum mimpi dikekalkan

Seberapa jauh jarak menepikan suara kita
dari dua puncak gunung tempat batu-batu berdentang
pada nyala kesunyian dan goa-goa mengendapkan
isyarat sulur-sulur hitam?

Lembah telah menjadi danau.
Sepasang rakit kosong dan riak seribu petang
mengembarakan dongeng sebelum mimpi dikekalkan.
Sedang usia telah melepuhkan tubuh kita,
saat cuaca memadat pada setumpuk almanak
dan seberkas tapak nyawa tertinggal
di kalang sebuah pertaruhan!

2003

dan engkau menyentuhku

Seserpih penanggalan terapung jauh,
jadi sehelai tikar yang luluh.
Membawa sujud ke ladang-ladang.
Ke tapak angin di pucuk-pucuk hanjuang

Di risik bambu haur saat sepenggalah matahari,
lirik itu berpendar pada tiap tetes sunyi.
Mungkin puisi. Atau pupuh
yang terekam oleh sebuah ilusi

Dan engkau menyentuhku.
Pada tapak pacul itu tertahan,
sebuah riwayat
yang kelak tumbuh dan merimbun

2005