gerimis
ada dan tiada
berbagi ruang dalam hatiku
saat kau menjelma gerimis
yang tak pernah kuduga
akan turun di senja itu
2007
Januari 9, 2008
gerimis
ada dan tiada
berbagi ruang dalam hatiku
saat kau menjelma gerimis
yang tak pernah kuduga
akan turun di senja itu
2007
Agustus 16, 2007
Sebuah Pasar Malam
Hidup yang selalu tak terduga mempertemukan kami lagi di sebuah pasar malam. Wajahnya tetap cantik. Dalam dandanan simpel tampak semakin menarik.
Entah kata apa yang pertama meluncur dari mulutnya. Dan aku hanya bisa mengangguk kemudian bengong. Selentik cahaya dari matanya tiba-tiba membakar hangus kalimat yang seharusnya kuucapkan. Ia tertawa, merangkulku. Agak lama tubuhnya kupeluk di tengah jubelan orang-orang yang tak kami pedulikan. Kami seakan langsung terpisah dengan semua orang yang ada di tempat ini. Musik hingar. Berbagai irama campur baur dari berbagai stan yang membanting harga jualannya dengan berbagai bualan. Anak-anak menjerit riang dari atas komidi putar. Suara penyanyi dangdut dengan cengkok murahan, bergoyang panas di atas panggung. Copet. Tukang sulap spesial sendok bengkok. Tukang balon. Penjual empedu ular kobra. Pemuda-pemuda jomblo. Bau pesing. Janda beralis ekor tikus. Topeng-topeng. Penjahat pantat. Tumplek semua dan seluruhnya terpisah dari dunia kami berdua.
Ia menatapku, “Kamu tak banyak berubah…”
Tatap mataku mengelak. Kupikir aku tak sama persis dengan aku yang dulu sering ia jumpai di sebuah kamar kontrakan, lewat tengah malam.
“Ya, sekarang kamu klimis. Tanpa janggut dan kumis kamu lebih manis, loh. Tapi tetep jantan…” Ia dengan lembut menekankan telunjuknya di dadaku. Aku tersipu. Sesuatu yang tak pernah mampir di wajahku dulu. Banyak orang bilang dulu aku nyaris tak pernah tertawa. Aku tak peduli. Aku tak tahu apa yang harus ditertawakan. Semua melulu keasingan dan kemualan.
“Tampaknya kita harus mencari tempat. Maksudku, untuk sekedar ngobrol melepas kangen…”
Ditariknya lenganku. Menyeruak di antara desakan manusia-manusia berbagai rupa. Ia membawaku ke sebuah warung bakso. Bau bakso yang bagiku lebih mirip bau daging mentah sebenarnya selalu membuat aku mual, tapi kutahan saja. Aku duduk dan ia memesan dua botol Fanta.
“Nyaris sepuluh tahun, ” katanya. Lalu setelah berpikir sejenak, ia bertanya, “Nyaris atau bahkan lebih, ya?”
“Tepat sepuluh tahun,” jawabku tanpa keinginan untuk memikirkan kebenaran ucapanku.
“Yeah, waktu begitu cepat melesat. Ke mana saja kamu?”
Kini aku memang harus berpikir. Lalu, “Aku mencoba bertani di sebuah desa..”
“Bertani?” ia meraih tanganku, meneliti telapak dan jari-jariku. Menggeleng. Tertawa. “Bertani apa? Aku tak melihat sedikitpun tangan seorang petani…”
Kutarik tanganku. Mencoba untuk menertawakan kebohonganku sendiri. Ia sendiri tak peduli, dan dengan lekat menatapku. Matanya menyipit.
Gila. Mata lewat tengah malam itu. Mata yang selalu datang dari kegelapan itu. Sepuluh tahun lalu. Atau mungkin belasan tahun lalu. Aku mendapati sorot matanya kembali, malam ini.
“Kamulah yang tak berubah…”
Ia tertawa agak keras. Dua orang yang duduk di meja lain menoleh.
“Aku telah punya seorang anak,” katanya.
“Menikah?”
Ia menggeleng. Fanta merah yang baru saja diminumnya semakin memerahkan bibirnya. “Aku tiba-tiba saja ingin punya anak, dan lahirlah dia. “
“Kenapa?” Tiba-tiba saja aku menangkap keganjilan pada nada kalimatnya.
“Ya, aku pikir ada baiknya juga aku menjadi perempuan seperti perempuan lain. Punya anak. Menyusui. Ngurus sampai gede.”
Aku tertawa mencelos. Dan tindakanku ini membuat alisnya sedikit terangkat. Kutepiskan lengan aku-tertawa-bukan-untuk-apa-apa.
“Aku sangat menikmati peranku sebagai ibu..”
“Ya. Ya. Lalu…”
“Pekerjaanku? Yeah, aku mencoba untuk meninggalkan pekerjaan itu. Tapi ketika apapun pekerjaan lain yang kukerjakan selalu gagal, aku kembali lagi. Aku harus menghidupi anakku.”
Sangat sulit untuk menghindarkan mimik ketidakmengertian dari wajahku; aku tersenyum.
“Mungkin bisa kukatakan aku beruntung ada seseorang yang kemudian membiayai kebutuhanku, hingga aku bisa berhenti dari pekerjaanku itu,” katanya sambil merendahkan nada suaranya.
“Seseorang?”
Ia mengangguk. “Dia yang memenuhi kebutuhan kami. Aku dan anakku. Aku pun ke kota ini karena dia ngajak. Dia orang penting di pemerintahan, dan selama satu minggu dia ada di kota ini untuk pekerjaan entah apa…”
Aku mencoba untuk menata kekacauan yang diakibatkan pikiranku yang kemudian simpang-siur. Tak pernah terpikirkan malam ini aku akan bertemu lagi dengannya. Di kota yang jauh dari kota tempat dulu kami sering bertemu. Ya, tidak terlalu sering memang. Tapi begitu banyak malam yang pernah kulewati bersamanya dalam kegilaan. Ia punya pesona yang selalu menentramkan perasaan kacauku. Selalu, setelah kuselesaikan setiap pekerjaan, aku akan mencarinya. Dan ia lebih dari sekedar melayani napas liarku. Dulu. Entah berapa tahun lalu.
“Kamu sendiri bagaimana?”
Aku terkejut dan kupalingkan mataku dari matanya.
“Aku berharap kamu sudah benar-benar mendapatkan pekerjaan lain,” katanya.
“Kamu sudah berhenti dari pekerjaanmu itu kan?” kali ini terdengar suara benar-benar penuh harap.
Aku mengangguk, “Ya, aku tak ingin mengalami nasib sial seperti kawanku yang lain,” dustaku.
“Aku baca di koran, banyak yang tertangkap dan dihukum mati,” katanya dengan nada hati-hati. Ia tentu masih berpikir bahwa sejak dulu aku pengedar obat terlarang seperti dustaku padanya. Ia tak tahu pekerjaanku yang sebenarnya.
“Begitulah. Ah, ya, aku tak pernah bermimpi kita bisa bertemu lagi apalagi di tempat seperti ini…”
“Kalau aku jujur saja sangat berharap bertemu kamu..”
“Maksudku, tak terpikirkan kita bisa bertemu malam ini, di sini…”
“Aku ke sini karena aku sudah lama sekali tak berada di tengah keramaian. Dan sangat mengejutkan kulihat kamu tadi di antara jubelan orang-orang…”
“Ya, kupikir kita punya kesamaan. Entah kenapa aku tertarik ke tempat ini…”:
“Kamu tak bertanya…”
Setelah sejenak kupikirkan, “Tentang mengapa kamu sangat berharap bertemu aku?”
Ia mengangguk.
“Kenapa?” Aku tak mencoba lebih jauh menebak-nebak.
Ia tak segera menjawab. Setelah menatapku agak lama, ia mengambil dompet dari saku celana jins yang dipakainya. Ia memperlihatkan sebuah potret.
“Peristiwa ini telah kuimpikan sejak anakku lahir…” Dompet di tangannya bergetar. Aku mengambilnya. Kuperhatikan. Anak perempuan itu tersenyum manis. Ada yang berdesir hangat di pergelangan tanganku. Kutatap kembali wajahnya.
“Sudah kukira. Kamu tak akan mengenalnya…”
Mataku melebar gugup.
“Aku tak terlalu berharap kamu mengakuinya. Tapi setelah kita sering berhubungan, aku berhenti dari pekerjaanku. Setiap saat aku menunggu kamu, terutama setelah aku tahu aku mengandung. Tapi kamu tak kunjung datang…”
Kelebat berbagai peristiwa mengalir deras di otakku. Inilah. Setelah seorang direktur perusahaan besar tewas di ujung pistolku, aku menghilang. Lebih dari sepuluh tahun hingga aku bisa kembali ke tempat seperti ini, sekaligus juga ke pekerjaanku yang tak ia ketahui. Kini semuanya seakan berputar dan aku terpental jauh ke dunia yang tak pernah kuimpikan.
Aku mencari-cari jawaban di sorot matanya yang kini basah. Aku mendapatkannya. Kukira, ia tak akan pernah bersikap seperti ini hanya untuk menyampaikan hal yang tak ada artinya. Tangannya kuraih dan aku benar-benar mendapati diriku sendiri sangat tak berarti.
Ia melepaskan tangannya. Mendorong potret itu ke depanku. Aku mengambilnya dan kutatap wajah anak itu. Entah kenapa, kini aku seperti berhadapan dengan sebuah cermin besar, tempat di mana aku bisa dengan jelas menilai kebusukanku sendiri.
Tiba-tiba terdengar suara ponsel. Ia mengambil ponselnya dan berbicara kepada seseorang di seberang sana dengan mulut ditutup tangan.
“Ia telah menungguku di hotel tempat kami menginap. Aku harus pulang,” katanya kemudian setelah menyimpan ponsel dan dompetnya ke dalam saku.
“Di hotel mana?” tanyaku segera. Potret kumasukkan ke saku jaketku.
“Istana Hotel,” katanya sambil berdiri lalu melambai pada penunggu warung. Aku membayar apa yang kami minum, lalu ke luar.
“Istana Hotel?”
“Hmm. Cuma hotel itu yang biasa disinggahi pejabat penting di kota ini.”
“Ppejabat penting? Yang bersama kamu?”
Langkahnya terhenti, berpaling padaku seakan tengah mengulang beribu adegan sama dari masa lalu, “Ya, dia yang selama ini menghidupi kami berdua. Kamu tak harus tahu orangnya. Dan, aku sangat berharap suatu saat kita bisa bertemu lagi…”
“Aku akan mencarimu ke hotel, besok…”
Ia tak menjawab. Kami menyeruak di antara manusia-manusia yang menghabiskan malam di keramaian ini. Tiba di jalan, ia memanggil becak dan pergi. Sejenak ia menatapku, lalu tanpa sepatah pun ia lalu menghilang dari mataku.
Tiba-tiba sebuah perasaan aneh menyergap ulu hatiku. Istana Hotel. Seorang pejabat penting. Itulah sebenarnya alasanku kenapa ada di kota kecil ini. Aku tiba-tiba sangat mual dan ingin muntah. Pistol kecil yang terikat di balik kaus kakiku, tiba-tiba terasa begitu berat. Sangat berat.***
Agustus 14, 2007
Dylan
…Silhuetted by the sea
Circled by the circus sands
With all memory and fate
Driven deep beneath the waves
Let me forget about today
Until tomorrow…
Dylan bernyanyi, mendekap gitar dengan wajah yang sepenuhnya tertunduk, seakan di hadapannya berdiri seseorang yang pandangannya tak mampu ia tentang. Mungkin wujud selain dirinya, yang datang dari luar kenangan dan membawa kesedihan yang minta ia fahami. Atau mungkin wujud dirinya yang lain, yang datang dengan lumpur mengental di kedua langkahnya, dengan aroma kenangan yang hitam. Dylan memanggilnya Mr. Tambourine Man. Dan ia menyanyikan keinginan untuk mendengar dia bernyanyi.
Mungkin sebuah penghiburan atau kemabukan lain yang diharapkan mampu meredakan kelam nasib, yang telah membuatnya begitu dalam tertunduk, di hadapan beribu kamera yang tengah merekam detak jantungnya untuk ia saksikan kelak, di sebuah kehidupan yang menunggu, jauh di luar senandung sebuah lagu yang murung.
Orang-orang tepuk tangan.
***
Tepuk tangan itu bergema di telingaku, lalu lenyap saat kembali kulewati jalan ini. Sepi menggantung di langit meneteskan getahnya ke leherku. Malam bagai terus menyembunyikan sebuah pesta rahasia di luar diriku. Dan di antara tiang-tiang listrik
yang redup, kulihat orang-orang bersayap kelabu melambaiku. Aku melewati mereka sambil menenteng sebuah gitar tua yang bisu. Sedang dari jendela-jendela rumah yang terang, mereka yang masih mengenakan topeng anjing terbahak untuk seluruh kemualanku. Melintasi tikungan, menghitung muntahanku sendiri yang kering di atas trotoar. Beratus malam telah kumamah kata-kata yang sama, dan kuludahkan sebagai sajak-sajak kelam yang tak menjelaskan apa-apa.
Seorang malaikat termangu dekat sebuah gardu yang kosong. Kulihat tak ada pelacur yang biasa meminta api rokokku, sambil sedikit membuka ketiaknya yang mengkilap. Tak ada desis suara basahnya yang biasa. Tak ada kerjapan menggoda dari sepasang
matanya yang semakin hari semakin tampak menguning itu. Alisnya yang runcing, lipstik murahan dan wangi parfum kelas kios pinggir jalan. Tak ada. Pelacur itu kemarin malam ditemukan di sebuah got di pinggiran kota oleh seorang hansip yang biasa
kencing di situ. Ia telah menjadi mayat dengan bekas pukulan di batok kepalanya.
Aku bersendawa karena tiba-tiba ada segumpal angin mendorong keras dari lambungku. Berusaha bersiul dan teringat pada malaikat yang tadi termangu. Ia sudah tak ada. Kukira ia telah pergi ke sebuah tempat lain, memanjatkan doa untuk orang-orang
yang terabaikan. Kutahu ini hanyalah imajinasiku belaka, bahwa malaikat itu demikian berbahagia karena ia selalu akan menjalankan tugasnya dalam kesedihan tak terhingga. Kesedihannya yang dalam pada orang-orang yang bahkan tak mengenal
dirinya, sebagai pelayan Tuhan. Suatu saat ia akan datang pula padaku. Mungkin akan mengetuk pintu kamarku perlahan, dan dengan kesopanan yang terjaga akan menatapku yang lungkrah di atas ranjang. Kami akan saling bertatapan, dan ia akan
membisikkan doa-doa terpanjang untuk ketentramanku. Mungkin dalam sebentuk nyanyian atau senandung yang pilu sekaligus syahdu. Akan kupejamkan mata di bawah sentuhan nafasnya, sambil kukenangkan seorang perempuan tua dengan wajah merapuh
menunggu dengan pintu yang selalu terbuka lebar. Angin yang tak pernah keliru menjatuhkan kalakay daun jambu di halaman, di atasnya langkahku mengertap dan lalu sebuah kenyataan lindap ke dalam waktuku. Dengan kebencian sepenuh cinta, kurangkul ia.
Ibu! Ibu!
Tapi di depan kamarku tak ada siapapun. Bau karat handel pintu menempel ke telapak tanganku yang dingin. Kunyalakan lampu.
Gitar kusandarkan. Botol-botol kosong berserak di atas ranjang. Ke atas meja bayanganku memanjang, ke banyak kertas telanjang. Gelas-gelas berisi jentik nyamuk. Dengan sepasang sepatu yang semakin memberat kubaringkan tubuhku, setelah botol-botol itu kusingkirkan dan sebagian pecah di ubin. Di langit-langit kembali kulihat sepanjang jalan yang kulewati. Tiang-tiang listrik yang murung. Jendela-jendela yang
menyusut dan topeng-topeng anjing yang dilemparkan ke trotoar, ke atas ludahku. Sebagian masih kudengar menggonggong saat aku melewati gardu yang kosong.
Sesaat kuingat malaikat itu menoleh padaku. Apakah ia tersenyum atau tidak, aku tak tahu. Tapi bisa kusimpulkan bahwa kesedihannya tengah teramat sangat, dan bahkan ia tak berkeinginan untuk menyapaku. Seharusnya kujabat tangannya tadi, atau sekalian kunyanyikan sebuah balada untuknya, tentang apapun yang seharusnya kusampaikan padanya. Atau mungkin hanya sebuah sentuhan perkenalan. Apakah ia masih di sana sekarang? Kalau pun tadi ia menghilang, tentulah untuk kembali lagi sekarang. Begitulah. Ia akan kujumpai lagi tengah termangu sendirian.
Aku kembali bangkit dan dengan tenaga yang kudapatkan tiba-tiba, aku telah berdiri tegak. Kusambar gitarku dengan kegelisahan yang meluap.
Tapi sesuatu kemudian terinjak di antara pecahan botol yang berserakan. Aku menatapnya. Sebuah kutang kuning muda. Aku mengambilnya dan segera saja bisa kuhirup wangi dada perempuan itu. Sepasang dada yang sudah tak begitu subur dengan sepasang puting kehitaman. Tapi ke sanalah selalu kubenamkan mukaku, mengalihkan segenap kemuakan dan menghirup udara tawar dari kesamaran waktu. Memasuki masa lalu dengan kesenangan yang musykil, kuhisap puting-puting itu. Perempuan itu tertawa dan menamparku. Dia lalu akan terguling ke atas tubuhku, tapi aku selalu punya kekuatan untuk kembali merebut dadanya.
Kukoyak-koyak ia, kumamah ia, kumuntahkan seluruh asin nyawaku. Ia memekik dan lalu menghantamku bertubi-tubi. Tawanya membuat seluruhnya menjadi bara, begitu panas dan menghanguskan.
Ketika semuanya usai dan tinggal lelatu memenuhi ruang sempit kamar ini, ia akan memandangku dengan tatapan yang paling kukenal.
“Aku bukan ibumu, dan kenapa kau selalu ingin menyusu padaku?”
“Karena ia juga pelacur sepertimu.”
Ia lalu akan tahu isi pikiranku. Sebentuk wajah di keremangan, selalu kutatap dari sebuah ruangan tempat aku dibesarkan. Wajah itu selalu hadir di pinggiran jalan berdebu, ketika menjelang malam. Tak seorang pun peduli apa yang ingin kuteriakkan.
Ibu! Ibu! Tak ada siapapun yang lalu ingin memungutku.
Di atas ranjang ini ia lalu selalu memintaku menyanyikan lagu itu. Dengan perasaan yang paling mabuk, ia menatapku. Alisnya yang runcing dan sebagian telah terhapus pipiku. Bibirnya yang belepotan lipstik akan tersenyum dan kemudian mengikutiku bernyanyi. Tapi kali ini ia hanya ingin mendengarku bicara, tanpa gitar, dan yang paling kuingat adalah larik-larik lagu itu: Terbayangi oleh laut. Dilingkari oleh sirkus pasir. Dengan segenap kenangan dan nasib terdorong jauh ke bawah gelombang. Biarkan aku melupakan hari ini sampai besok…
Ia lalu bertepuk tangan. Menghisap rokok dalam-dalam.
“Mengapa selalu Dylan?”
“Karena kamu selalu minta lagu itu…”
“Ya, ya, mengapa selalu lagu itu? Seseorang pernah selalu menyanyikan lagu itu dulu di depanku, sebelum ia pergi sebagai anjing. Aku menyukainya, tentu saja, seperti halnya aku menyukaimu. Jadi nyanyikanlah terus lagu itu…”
Aku menatap keringat di hidungnya.
“Kamu tak usah cemburu, kamu lebih baik darinya. Itu yang ingin kukatakan…”
Aku menatap setitik keringat meluncur dari hidungnya. Ia tertawa. Meracau semalaman. Dan pada seluruh kejadian, lewat mataku yang nanar wajah di keremangan itu seringkali kulihat berkelebat di sepasang mata dan buah dadanya. Tapi ketika aku kemudian terbangun di pagi yang lain, di saat kuinginkan masih bisa kudekap tubuhnya, ia selalu telah menghilang. Aku melewati jalanan itu kembali. Jalanan yang beribu kali kulewati.
Aku benar-benar ingin melupakan semua kekonyolan yang telah lama menyiksaku. Tapi di gardu itu tak ada siapapun. Tak ada malaikat yang termangu. Tak ada doa-doa. Aku berdiri sebentar, dan kurindukan perempuan itu. Kurindukan buah dadanya. Kurindukan pekiknya yang mirip anjing kesakitan hingga aku tak dapat menahan dadaku, aku muntah-muntah sampai terasa tak ada lagi yang harus kumuntahkan.
Kulewati lagi kesepian itu. Kegelapan di sepanjang jalan membuat langkahku sedikit agak ringan. Kuusap keringat di leherku.
Kugenggam tubuh gitar dan kurasakan beberapa bagian yang retak. Tak ada yang ingin kulakukan, selain tiba-tiba mengharapkan seseorang yang mampu menjadi perempuan itu, mendengarku menyanyi malam ini. Dan dengan gitar di dekapan, aku menunduk ke hitam jalanan, menjadi Bob Dylan sebagaimana selalu kubayangkan saat kunyanyikan lagu ini.
“Lihat si Bob bernyanyi!” kudengar sebuah teriakan.
“Mana?”
“Itu dia, di bawah lampu tikungan!”
“Aha, nyanyikanlah lagu itu, Bob!” yang lain menimpali. Suara yang cukup ramai itu mengawali denting gitarku. Hey, Mister Tambourine Man, Play a song for me…
Mereka bertepuk. Memuji suara sengauku. Meminta mengulang lagu itu. Dan beberapa lembar ribuan melayang ke dekat kakiku. Aku tak peduli. Kupejamkan mata dan kunyanyikan lagu itu sekali lagi, sekian kali lagi.
Sesekali saku jaket kumalku tersentuh lengan yang memainkan gitar. Di dalamnya sebuah kutang terlipat rapi. Mungkin darah di beberapa bagian kutang itu, sekarang telah benar-benar kering.***
1997/2005
Dengan segenap hormat untuk Dylan dan Dylan