Buku Bagus


10kaver.jpg

Judul Buku             : Purnama di Bukit Langit
Antologi Puisi Tiongkok Klasik
Karya Terjemahan : Zhou Fuyuan
Penerbit                 : Gramedia (cet.1/April 2007)
Tebal                     : 454 h

CARILAH ilmu meskipun sampai ke negeri Cina, sabda Nabi. Dan hal ini berlaku juga untuk kita yang ingin mendalami puisi. Cina atau Tiongkok tercatat sebagai negeri dengan sejarah kesusastraan paling tua di muka bumi ini. Puisi-puisi Cina klasik hingga saat ini bagai sumur yang tak pernah kering digali, dinikmati, dirasakan kesejukan dan kesegarannya. Ribuan, bahkan jutaan puisi lahir dari ribuan penyair Tiongkok kuno. Karya-karya mereka adalah mutiara yang kilauannya menembus bentangan masa, terentang sepanjang zaman.

Sayangnya, mutiara-mutiara tersebut tak bisa kita reguk kilauannya dengan leluasa dalam rentang waktu yang cukup lama. Pada masa orde baru berkuasa di negeri ini, hanya beberapa gelintir puisi saja yang bisa kita nikmati terjemahannya dalam berbagai cetakan media. Selama itu bahkan tercatat hanya satu buku yang pernah diterbitkan mengenai karya-karya penyair Tiongkok klasik, yakni Antologi Puisi Klasik Cina (Budaya Jaya, 1976). Buku ini memuat 56 buah puisi hasil terjemahan Sapardi Djoko Damono dari Bahasa Inggris. Artinya puisi tersebut sampai ke tangan kita setelah mengalami dua kali penerjemahan, dari bahasa Cina ke Bahasa Inggris, lalu ke Bahasa Indonesia. Kebijakan politik orba tentu saja menjadi salah satu penyebab utama mengapa kita begitu berjarak dengan karya sastra Cina selama ini.

Bila membaca buku terjemahan Sapardi kita hanya bisa mencicipi sedikit dari aroma klasik puisi Cina, maka lewat buku “Purnama di Bukit Langit” kita bisa mereguk puas aroma dan auranya yang sungguh menakjubkan. Dalam buku ini tak kurang dari 560 buah puisi disajikan sang penerjemah Zhou Fuyuan. Ia menghimpun dan mengalihbahasakan langsung dari bahasa aslinya (Cina klasik) ke bahasa Indonesia, dengan sangat luarbiasa.

Setidaknya hingga saat ini, buku inilah yang paling representatif menghadirkan karya-karya terbaik dari jagat perpuisian Tiongkok klasik yang terentang dari zaman Dinasti Zhou (1066?-256SM) sampai kerajaan terakhir yakni Dinasti Qing (1616-1911). Untuk pembaca yang sama sekali buta akan keberadaan puisi Tiongkok klasik, penerjemah bermurah hati menuliskan berbagai hal berkaitan dengan puisi dan kondisi masyarakat Tiongkok yang melatar belakangi lahirnya karya puisi. Tulisan cukup panjang yang terangkum dalam bab Pendahuluan tersebut, memuat hal-hal yang sangat membantu kita untuk mengetahui lebih dalam tentang posisi puisi dalam masyarakat Tiongkok kuno, perjalanan sejarah negeri Tiongkok, dan jenis puisi yang banyak ditulis para penyairnya. Dan pada bagian lain, tercantum juga biografi singkat 17 tokoh penyair penting dalam dunia kepenyairan Tiongkok klasik.

Kian lengkap, karena buku ini juga diawali dengan pengantar Leo Suryadinata yang dengan detil menguji kualitas penerjemahan Zhou Fuyuan, dan membuat kita percaya bahwa Zhou Fuyuan lebih mampu mengalihbahasakan puisi Tiongkok klasik ini dibanding penerjemah terdahulu. Lewat beberapa contoh yang diuraikan, kita selanjutnya bisa tenang membaca satu persatu judul puisi tanpa takut disesatkan oleh buruknya penerjemahan, sebagaimana seringkali kita hadapi saat membaca buku-buku sastra terjemahan akhir-akhir ini.

Yang sangat menarik, Zhou Fuyuan menghidangkan puisi-puisi terjemahannya ini dengan disertai juga catatan kaki mengenai situasi yang dialami sang penyair ketika menuliskan puisi tersebut. Hal ini ia lakukan untuk puisi yang memang butuh keterangan tentang latar budaya khas dan situasi politik yang tengah berlangsung dan menjadi latar lahirnya puisi tersebut. Hal ini penting karena banyak penyair Tiongkok klasik yang juga menjadi bagian dari kekuasaan sebuah dinasti, atau juga terlibat dalam pergolakan politik.
Misalnya pada sebuah puisi pendek karangan Jing Ke (?-227SM) berjudul “Nyanyian Sungai Yi”. Isi puisinya demikian: Angin menderu-deru oh dinginnya Sungai Yi, / sekali bertolak oh Satria takkan pulang kembali!//. Untuk puisi ini penerjemah menyisipkan catatan kaki: Jing Ke diberi tugas rahasia melaksanakan pembunuhan terhadap Raja Qin. Pangeran Yun dan para sahabat dekat berpakaian serba putih, melepas keberangkatan di tepi Sungai Yi. Sadar baik sukses maupun gagal tak akan lolos dari kematian, saat berpamitan Jing Ke melantunkan lagu ini. (Hal. 25).

Demikian, buku yang ulasan penutupnya ditulis oleh Sapardi Djoko Damono ini, tak hanya memberi kita bahan apresiasi, tapi juga sebuah karya lengkap yang akan membuat ruhani kita menjadi semakin berisi. (Nazaruddin Azhar)***

10-resensi.jpg

Judul buku : Menjadi Penyair Lagi…
Penulis : Acep Zamzam Noor

Pengantar : Dr. Mikihiro Moriyama

Penerbit : Pustaka Azan, cet. pertama April 2007
Tebal : 107 + xvi

PUISI cinta, seperti juga lagu cinta, masih akan tetap jadi sesuatu yang menyenangkan saat kita membaca dan menikmatinya. Meski pada dasarnya puisi tersebut adalah catatan personal penyairnya atas suatu pengalaman yang ia alami, tapi sifat dasar puisi yang terbuka untuk diberi tafsir, diimbuhi dengan gerak batin pembaca atas pengalaman personalnya sendiri, maka puisi adalah sebuah pesona di mana setiap orang bisa melebur di dalamnya.

Membaca puisi cinta, adalah membaca kehidupan itu sendiri. Puisi yang baik, akan selalu punya sihir kata yang mampu melibatkan perasaan pembacanya. Kadang juga seperti halnya cinta, ia akan menuntut kita melangkah lebih jauh dari sekedar memahami kata per kata yang tercetak pada lembaran kertas. Ia akan membawa kita pada kembara tanpa batas, melintasi sekat makna atas pengertian harfiah dari variabel yang menjadi bagian integral perasaan cinta yang biasa; rindu, kenangan, kesepian, harapan, dll. Di tangan penyair, kata cinta menjadi berkah bagi semua orang.

Demikian halnya saat membaca kumpulan puisi berjudul “Menjadi Penyair Lagi…” ini. Judul yang mencitrakan sebuah titik tolak baru bagi sang penyair untuk kembali kepada peran kepenyairannya. Dan sang penyair, Acep Zamzam Noor, tidak lantas menyodorkan puisi-puisi yang bisa kita anggap fase terbaru dari kepenyairannya pasca kumpulan puisi terdahulu, ia malah mengajak kita kembali ke ranah cinta yang diuraikan dengan sederhana, cinta yang menyimpan ketulusannya yang murni, dengan bahasa yang kadang menggeliat pejal, kadang meronta, dan kadang tenang seakan sebuah bisikan dengan rima yang terjaga, dan karenanya terasa menghanyutkan.

Dengarlah salah satu bisikan itu: Sebuah lagu mengalun/Mengantarkanmu pada sepi ini/Barangkali kaulah yang bersenandung/Dan menyeretku ke hutan puisi//Sebuah senyum terkulum/Telah membangkitkan rinduku/Barangkali kaulah yang tersenyum/Dan melemparkanku ke belantara lagu// (Sebuah Lagu, hal. 11).

Dalam kumpulan terbarunya ini, dari 53 sajak pada bagian pertama berjudul “Ada yang Belum Kuucapkan”, di antaranya Acep menghidangkan puisi-puisi awal kepenyairannya yang sebagian besar belum dibukukan, dari rentang penulisan antara 1978 sampai 1989. Dan pada bagian kedua yang berjudul “Menjadi Penyair Lagi” terangkum 38 sajak dari rentang penulisan 1990 sampai 2006.

Membaca kumpulan puisi ini, kita seakan tengah menikmati potret yang merekam sisi “paling sensitif” dari kehidupan cinta penyairnya yang liar sekaligus romantik, yang tegar maupun yang melankolik. Cinta yang bermuara pada sekian nama perempuan, maupun cinta yang menyuarakan keperihan eksistensial yang menukik pada makna yang lebih dalam. Meski bertabur kata sepi, rindu, dan variabel cinta lainnya, pada dasarnya, sebagaimana tergambar dalam sampul buku ini yang menampilkan bocah laki-laki telanjang sedang tersenyum dan dengan tangan menyembunyikan kelaminnya, puisi-puisi dalam kumpulan ini seakan memberi gambaran kepolosan, kejernihan dari pemaknaan serangkaian kenangan dan harapan yang dimiliki penyair atas cinta yang dimilikinya untuk sang kekasih, baik kekasih dengan “K” besar, maupun kekasih dengan “k” kecil.
Sebagaimana tersurat dalam puisi pertama bertajuk “Prelude” , Acep hanya ingin mengajak kembali pembaca menyelami hakikat cinta yang kini kian menjadi “barang langka” dalam keseharian kita yang tengah jadi arena pertarungan beragam kepalsuan. Ia mengajak kembali ke dalam puisi sebagai salah satu wilayah di mana kita akan selalu mendapatkan kata dan makna cinta yang masih murni. Karena katanya, “..Sajak adalah harapan/…adalah danau tenang/..//Ini sajak manis untukmu/Semanis rindu/Teguklah bersama waktu// *