Gombloh dan Lemon Tree’s anno ’69
“Nadia & Atmospheer”
Gombloh : akustik gitar, akustik gitar 12 snar, tabla, conga, drum, bass
Wisnu Padma : akustik piano, synthesizer, organ, harpsichord, sinthebass, rolandstring, cello, bluesharp, mellotron, flute, violin, cabasa
Gatot : elektrik gitar, akustik gitar
Tuche : elektrik bass
Totok : drum
Vokal : Gombloh, Lorena, Reny C, Ais
Lagu dan Lirik : Gombloh
Produksi Indra Record/Golden Hand, 1978
Side A
1. Lepen (nostalgia Lemon Tree’s)
2. Merah & Putih Bersilang di Dadaku
3. Nadia & Atmospheer
4. Kereta itu Berangkat pk. 4.30
5. Ironi
6. Kemarau Panjang
Side B
1. Gaung Mojokerto-Surabaya
2. Tetralogi Fallot
3. Sillhuet Kuda Jantan
4. Hijau Mencekam
5. Bencana ‘ 76
6. Senandung Pengemis Tua Seharga 5 Rupiah
7. Dimensi Antar Ruang
DENGAN kalimat apa kita mulai membicarakan seorang Gombloh? Mungkin dengan sebuah kalimat pujian: Ia musikus yang jenius.
Kau bolehlah tak setuju, kawan, tapi bagiku, Gombloh adalah musikus serba lengkap. Ia cerdas menulis lirik, asyik mengolah nada, dan jenial dalam mengaransir lagu serta mampu memainkan berbagai alat musik sebagaimana tercantum dalam kaver kaset “Nadia & Atmospheer” ini.
Ini adalah album pertama Gombloh bersama Lemon Tree’s. Album yang kaya warna, terutama dalam tema lirik yang ditulis Gombloh. Saat kita mulai memutarnya di side A, yang pertama akan kita dengar adalah kenakalan Gombloh dalam menggombali perempuan. Dengan irama blues yang “melayang”, harmoni gitar dan hisapan harmonika, terdengar dibawakan dalam sebuah konser lengkap dengan teriakan “Selamat malam, Surabaya!” plus tepuk tangan, lagu ini terdengar ringan dan menyenangkan. Nilai plusnya tentu saja di lirik. Rayuan Gombloh seakan ingin mewakili para pejuang cinta dari kelas jalanan, yang pantang mundur, sok necis, sok romantis, dan tentu saja, tak kepalang gombal. Apa lacur, saat ngapel pada si gadis, malah yang keluar adalah bapaknya, yang mukanya ditekuk persis kaya onta! Haha, Gombloh memang “bangsat” penutur humor yang asyik dalam lagu.
Tapi, ini bukan album humor, kawan. Di lagu ke dua, “Merah & Putih Bersilang di Mukaku”, Gombloh hadir dengan jiwa merah putih yang lantang bertutur tentang kontradiksi yang ada di negerinya. Di lagu beraroma art rock (atau bacalah: rock progressive) berdurasi 8.20 menit ini, Gombloh menyandingkan kondisi yang “bayi telanjang / bersimbah tawa bersimbah peluh” dengan “pedang telanjang / bersimbah darah bersimbah keluh”. Ia memotret negerinya dengan nada yang “nrimo” , dengan selipan nada riang, seakan memang kondisi di mana “Damai desa ramai kota saling pagut menyeluruh” telah ia terima sebagai kewajaran khas dari sebuah kehidupan.
Sebagai pencipta lagu, Gombloh nampak fasih bercerita apa saja. Ia tak hanya mampu membuat rasa nasionalisme kita kian tambun, tapi juga bisa dengan cerdas menyisipkan tema-tema yang agak asing dan jarang kita jumpai dalam lagu Indonesia kebanyakan. Seperti tentang duka seorang ibu yang mengandung anaknya, tapi kemudian anaknya meninggal, dalam lagu “Tetralogi Fallot”. Judulnya sendiri sudah “berbau medis” (fallovian: saluran telur menuju rahim). Judul dan tema yang langka, dan mungkin baru Gombloh yang menuliskannya dalam lagu.
Di lagu lain, Gombloh bahkan bercerita tentang masa depan. Kecemasan illusif yang tercium tajam terdapat dalam lagu “Hijau Mencekam”, yang bercerita tentang satu juta tahun setelah Masehi. Kata Gombloh, kelak: Pencakar langit berlomba dengan statistik kelahiran / Taman-taman tersingkir oleh kepadatan insan. Kebutuhan bumi dipenuhi dengan kalengan, entah benda padat atau benda cair.
Mahluk yang kita sebut Alien, terdapat dalam lagu “Dimensi Antar Ruang”. Ceritanya si tokoh dalam lagu berjalan sendiri, tiba-tiba ada suara aneh bagai suara musik campur dengung lebah. Ia pun mencari sumber suara, ternyata datang dari atas, sebuah benda bulat bersinar melayang turun, dan dari benda itu turunlah mahluk manusia kristal. Alien. Sayang, mahluk itu datang dan pergi begitu cepat, hingga si tokoh dalam lagu itu tak sempat bertanya: Apakah negara di sana berbentuk republik, apakah di sana ada demontrasi, apakah di sana ada prostitusi? Uh, imajinasi yang liar. Tapi, dasar Gombloh, ia masih juga menyisipkan lirik tentang kecintaannya pada Republik Indonesia, di akhir lagu. Agak terganggu sebenarnya dengan bagian akhir di lagu itu, tapi, ya memang begitulah inginnya si pencipta lagu.
Lagu lain, ada tentang keindahan alam, kedamaian, juga sketsa sosial tentang pengemis tua. Gombloh juga lantang bersikap jantan dalam lagu “Silhuete Kuda Jantan”.
Musikus bernama asli Sudjarwoto Sumarsono yang lahir di Jombang, 12 Juli 1948 dari pasangan Slamet dan Fatukah ini, meninggalkan salah satu karya terbaiknya, yakni album ini. Ia meninggal 9 Januari 1988, setelah berkarya dalam 16 album, baik bersama Lemon Tree’s, maupun album solo.*
Lirik
LEPEN (lelucon pendek)
Bagiku sinar mentari tak seindah matamu
Untukku elusan angin tak semulus lenganmu
Tak perduli omongan temanku
Tak perduli resiko untukku
Aku naksir kamu kau jadi gadisku
Malam minggu pertama aku piket
Dengan sisa uang di saku hampir lengket
Dengan tiga batang dji sam soe
Kusimpan di saku blue jeanku
Kickers loakkan menambah angker tampangku
Kupilih duduk di sudut agak remang
Kutunggu keluar sang putri Aryo Penangsang
Pikiran melayang yang bukan-bukan
Andaikan kau dan aku berpacaran
Kalau cinta melekat tai kucing rasa coklat
Tapi apa lacur yang keluar adalah bapaknya
Dengan muka ditekuk persis kaya onta
Dengan garang ia berkata
Gadisku tak ada di rumah
Sambil ngedumel kuberkata dalam hati… Bangsat!!!
*pada versi lain, Gombloh merubah lirik di bait ke 1 & 2 menjadi:
Bagiku sinar mentari tak seindah matamu
Untukku elusan angin tak semulus pahamu
Tak perduli omongan temanku
Tak perduli resiko untukku
Aku naksir kamu kau jadi “ehe”-ku
malam minggu pertama aku piket
dengan sisa uang di saku hasil nyopet
dengan tiga batang dji sam soe
kusimpan di saku blue jeansku
kickers loakkan menambah item kakiku
MERAH DAN PUTIH BERSILANG DI MUKAKU
Angin laut tampar lembut terasa dingin di kudukku
Burung camar samar halus fatamorgana di depanku
Senyum perawan tipis berawan
Tempel di pelupuk mata kananku
Yang Shanti
Yang Shanti
Yang Shanti
Yang Shanti
Bara api terasa kering lapisan panas di keningku
Prostitusi caci maki budaya lewat di kotaku
Bersimpang siur dada berdebur
Tempel di pelupuk mata kiriku
Yang Shanti
Yang Shanti
Yang Shanti
Yang Shanti
Hey hey bayi telanjang
Bersimbah tawa bersimbah peluh
Hey hey pedang telanjang
Bersimbah darah bersimbah keluh
Kejar mengejar diseling kerling
Mega berarak tuding-menuding
Peluk berpeluk saling menggiling
Guru mengguru dunia berpaling
Damai desa ramai kota saling pagut menyeluruh
Kuncup tebu asam arang saling berjanji memadu
Lestari alam ciptaan Satu
Tempel di kedua mata batinku
Yang Shanti
Yang Shanti
Yang Shanti
Yang Shanti
Oktober 17, 2007 at 5:03 am
asyik. bahas pula album gombloh lainnya…
November 8, 2007 at 6:09 am
oke… ntar kita bicarain di sini.
November 23, 2007 at 12:30 am
gw nich pans berat gomloh dulu gw punya banyak album gombloh tapi kini hilang setelah pindah rumah.tolong ksh kabar dimana yang masih ada kaset (bukan CD). trims
Desember 6, 2007 at 6:49 am
wah, agak susah nyarinya joe. aku juga ada beberapa hasil berburu di bursa kaset bekas/lama di bandung, dan juga dapet dari beberapa kolektor yang mau melepas dengan harga tertentu. Terima kasih udah mampir. mudah-mudahan bisa cepet dapet kasetnya.
Desember 13, 2007 at 5:07 pm
Hello, selamat malam – ma’af kalau bahasa saya tidak jelas… saya senang sekali kamu juga punya album ini. Saya beli kasetnya ini di Jalan Surabaya (di Jakarta) tahun 1992, dan saya masih suka sampai sekarang… Terimah kasih banyak untuk informasi soal album ini. Ma’af again for my terrible bahasa. I hope it makes sense… Bye, Derek
Maret 11, 2008 at 10:23 am
wah kok ya masih ada yang punya kaset ini…menurut saya album yang satu ini paling bagus. Saya masih ingat gombloh and the gank menyanyikan lagu lagu di album ini di TV masih hitam putih. ketika itu saya masih SD. Dan saya tahu lagu lagu diawal jaman mereka belum ngetop juga dari wisnu padma…dia masih sepupu saya..
nggak tahu dia sekarang dimana…
Mei 21, 2008 at 11:09 am
Salam kenal…
Saya jg penikmat lagu2 Gombloh ketika masih sekolah dulu. Favoritnya diantaranya : Hong Wilaheng, Senja di Ranu Pane (alunan biolanya yahuud banget). Memang bener kalo dibilang lagunya Gombloh+Lemon Tree’s sangat mengesankan….
Saya lagi nyari lagu Gombloh berjudul “Merah Putih” (?) bukan merah&putih bersilang di dadaku spt diatas. Lagu ini dinyanyikan Agnes Monica di Istora Senayan pas HUT Kebangkitan Nasional 100 dan pernah pernah jg dibawakan keroyokan beberapa artis /penyanyi bbrp tahun lalu. Syukur kalau ada yg mau kirim MP3-nya, tapi kalau ada yg bisa ngasihtau liriknya juga udah senang. Bertahun-tahun nyari kaset/cdnya di Bandung gak ketemu2.
Sy punya obsesi (boleh dong..) ngusulin lagu ini jadi “lagu wajib” atau “lagu kebangsaan” atlet Indonesia terutama atlet Olympiade !! Menurut sy lirik lagunya lebih mengena/menyentuh untuk anak jaman sekarang, tidak terlalu verbal dibanding Indonesia Raya ato Padamu Negri tapi maknanya MANTEB BANGET(dan itulah hebatnya alm. GOMBLOH !!).
Thank’k kalau ada mau bantu …
Juli 4, 2008 at 8:35 am
akhir tahun 70-an aku ngefans banget sama gombloh, sayang ia mati muda.musik dan lagunya sungguh berkarakter jauh dari kategori murahan seperti musik jaman sekarang.Aku paling suka lagu “Bung Karno” (entah judulnya lupa lagi)tapi liriknya diantaranya : bercadar sutera hitam/terawang jauh di depan/iring-doa-doa panjang/mengirimkankau pergi semayam…
Juli 13, 2008 at 5:20 am
buat cakrofik:
)
kalo nggak salah lagu merah-putih dinyanyikan oleh sulih. kebetulan saya belum mendapat album itu. saya setuju lagu merah-putih jadi lagu wajib/kebangsaan
Juli 13, 2008 at 5:20 am
buat dickie:
lagu itu berjudul BK. lagunya emang asyik.
Oktober 22, 2008 at 6:44 am
om … ada link mp3 nya ga? ane nyari kasetnya ga nemu …
masih punya album yang “setengah gila” …
tapi dah jamuran … mau diurusin dulu ….
dah ga punya covernya … (warisan dari kakak … hehehe)
thanx b4 bro …
Oktober 24, 2008 at 5:09 pm
Salaam dari Singapore…
Saya mula mengenal Gombloh lewat Album Berita Cuaca dengan lukisan cover yang surrealistic mirip lukisan Salvadore Dali. Berita cuaca, ujung kulon, hong wilaheng, kedamaian, gugur bunga, hitam putih, 3600 detik…. waduh! lirik dan musik yang begitu harmonis dan jitu yang saya kira sungguh luarbiasa dan ‘way ahead of its time!’. Kaget juga kok baru ketahuan ada seniman yang begitu hebat dari Indonesia yang bolih di martabatkan ‘World Class!’ Selepas itu saya rasa harus dapatkan semua koleksi album Gombloh bersama LemonTrees.. Pada awal 80′an melalui ipar saya yang sering pulang ke Indonesia saya berhasil mendapatkan sekitar 7 album Gombloh bersama LemonTrees. Ternyata semua Albumnya masterpiece & hebat!!! Gombloh memang genius dan bagi saya Indonesia kehilangan tokoh besar seni yang tiada tolok bandingnya! Hingga sekarang kaset lagu lagu Gombloh bersama LemonTrees sering saya mainkan di dalam mobil sewaktu sedang memandu. Lirik2 lagu Gombloh juga sudah di hafal dan sering di bibir anak2 saya yang juga meminati Gombloh lebih dari Peterpan.
Semoga waris yang di tinggalkan Almarhum Gombloh sentiasa dalam keadaan terbela….
Salaam
Oktober 3, 2009 at 4:28 am
aku lagi nyari – nyari albumnya sang maestro, mungkin Anda punya info kaset album alm gombloh yang lengkap, punyaku banyak yang udah rusak, nih. maturnuwun
Oktober 9, 2009 at 11:36 am
Aku tau Gombloh dengan Lemon Trees Anno ‘69 nya sekitar tahun ‘78. Waktu itu ada teman sebangku dikelas yang bernyanyi sebuah lagu, yang menurut aku liriknya aneh, aku lupa nama lagunya, yang aku ingat lagu itu bercerita tentang pertemuan Gombloh dengan makhluk luar angkasa… Wah, lagu yang aneh, terus besok2nya temenku itu minjemin aku 2 album kaset Gombloh. Sejak itulah aku suka berat sama Gombloh dan kaset2nya aku buru di Duta Suara, Jakarta. Termasuk album2 berbahasa jawanya… Sejujurnya, Gombloh adalah salah satu pionir aliran Progressive Rock di Indonesia, musisi/penulis lirik yang sangat nasionalis, mampu membangkitkan semangat kebangsaan dengan caranya yang sederhana. Dia mampu mengkritik tanpa pernah sedikitpun marah apalagi memaki… Walau diakhir masa emasnya, aku sempat kecewa, karena dia mulai ‘melacur’ dengan membuat lagu ‘Diradio’. Tapi aku tetap mengagumi dia sama seperti aku mengagumi alm Benyamin S.
Oktober 31, 2009 at 3:35 am
Klo ada yang punya baik kaset atau CD gombloh volume 1-10, boleh dong aku dikirimi. Ntar tak ganti biayanya. Serius nih…