Sebuah Pasar Malam
Hidup yang selalu tak terduga mempertemukan kami lagi di sebuah pasar malam. Wajahnya tetap cantik. Dalam dandanan simpel tampak semakin menarik.
Entah kata apa yang pertama meluncur dari mulutnya. Dan aku hanya bisa mengangguk kemudian bengong. Selentik cahaya dari matanya tiba-tiba membakar hangus kalimat yang seharusnya kuucapkan. Ia tertawa, merangkulku. Agak lama tubuhnya kupeluk di tengah jubelan orang-orang yang tak kami pedulikan. Kami seakan langsung terpisah dengan semua orang yang ada di tempat ini. Musik hingar. Berbagai irama campur baur dari berbagai stan yang membanting harga jualannya dengan berbagai bualan. Anak-anak menjerit riang dari atas komidi putar. Suara penyanyi dangdut dengan cengkok murahan, bergoyang panas di atas panggung. Copet. Tukang sulap spesial sendok bengkok. Tukang balon. Penjual empedu ular kobra. Pemuda-pemuda jomblo. Bau pesing. Janda beralis ekor tikus. Topeng-topeng. Penjahat pantat. Tumplek semua dan seluruhnya terpisah dari dunia kami berdua.
Ia menatapku, “Kamu tak banyak berubah…”
Tatap mataku mengelak. Kupikir aku tak sama persis dengan aku yang dulu sering ia jumpai di sebuah kamar kontrakan, lewat tengah malam.
“Ya, sekarang kamu klimis. Tanpa janggut dan kumis kamu lebih manis, loh. Tapi tetep jantan…” Ia dengan lembut menekankan telunjuknya di dadaku. Aku tersipu. Sesuatu yang tak pernah mampir di wajahku dulu. Banyak orang bilang dulu aku nyaris tak pernah tertawa. Aku tak peduli. Aku tak tahu apa yang harus ditertawakan. Semua melulu keasingan dan kemualan.
“Tampaknya kita harus mencari tempat. Maksudku, untuk sekedar ngobrol melepas kangen…”
Ditariknya lenganku. Menyeruak di antara desakan manusia-manusia berbagai rupa. Ia membawaku ke sebuah warung bakso. Bau bakso yang bagiku lebih mirip bau daging mentah sebenarnya selalu membuat aku mual, tapi kutahan saja. Aku duduk dan ia memesan dua botol Fanta.
“Nyaris sepuluh tahun, ” katanya. Lalu setelah berpikir sejenak, ia bertanya, “Nyaris atau bahkan lebih, ya?”
“Tepat sepuluh tahun,” jawabku tanpa keinginan untuk memikirkan kebenaran ucapanku.
“Yeah, waktu begitu cepat melesat. Ke mana saja kamu?”
Kini aku memang harus berpikir. Lalu, “Aku mencoba bertani di sebuah desa..”
“Bertani?” ia meraih tanganku, meneliti telapak dan jari-jariku. Menggeleng. Tertawa. “Bertani apa? Aku tak melihat sedikitpun tangan seorang petani…”
Kutarik tanganku. Mencoba untuk menertawakan kebohonganku sendiri. Ia sendiri tak peduli, dan dengan lekat menatapku. Matanya menyipit.
Gila. Mata lewat tengah malam itu. Mata yang selalu datang dari kegelapan itu. Sepuluh tahun lalu. Atau mungkin belasan tahun lalu. Aku mendapati sorot matanya kembali, malam ini.
“Kamulah yang tak berubah…”
Ia tertawa agak keras. Dua orang yang duduk di meja lain menoleh.
“Aku telah punya seorang anak,” katanya.
“Menikah?”
Ia menggeleng. Fanta merah yang baru saja diminumnya semakin memerahkan bibirnya. “Aku tiba-tiba saja ingin punya anak, dan lahirlah dia. “
“Kenapa?” Tiba-tiba saja aku menangkap keganjilan pada nada kalimatnya.
“Ya, aku pikir ada baiknya juga aku menjadi perempuan seperti perempuan lain. Punya anak. Menyusui. Ngurus sampai gede.”
Aku tertawa mencelos. Dan tindakanku ini membuat alisnya sedikit terangkat. Kutepiskan lengan aku-tertawa-bukan-untuk-apa-apa.
“Aku sangat menikmati peranku sebagai ibu..”
“Ya. Ya. Lalu…”
“Pekerjaanku? Yeah, aku mencoba untuk meninggalkan pekerjaan itu. Tapi ketika apapun pekerjaan lain yang kukerjakan selalu gagal, aku kembali lagi. Aku harus menghidupi anakku.”
Sangat sulit untuk menghindarkan mimik ketidakmengertian dari wajahku; aku tersenyum.
“Mungkin bisa kukatakan aku beruntung ada seseorang yang kemudian membiayai kebutuhanku, hingga aku bisa berhenti dari pekerjaanku itu,” katanya sambil merendahkan nada suaranya.
“Seseorang?”
Ia mengangguk. “Dia yang memenuhi kebutuhan kami. Aku dan anakku. Aku pun ke kota ini karena dia ngajak. Dia orang penting di pemerintahan, dan selama satu minggu dia ada di kota ini untuk pekerjaan entah apa…”
Aku mencoba untuk menata kekacauan yang diakibatkan pikiranku yang kemudian simpang-siur. Tak pernah terpikirkan malam ini aku akan bertemu lagi dengannya. Di kota yang jauh dari kota tempat dulu kami sering bertemu. Ya, tidak terlalu sering memang. Tapi begitu banyak malam yang pernah kulewati bersamanya dalam kegilaan. Ia punya pesona yang selalu menentramkan perasaan kacauku. Selalu, setelah kuselesaikan setiap pekerjaan, aku akan mencarinya. Dan ia lebih dari sekedar melayani napas liarku. Dulu. Entah berapa tahun lalu.
“Kamu sendiri bagaimana?”
Aku terkejut dan kupalingkan mataku dari matanya.
“Aku berharap kamu sudah benar-benar mendapatkan pekerjaan lain,” katanya.
“Kamu sudah berhenti dari pekerjaanmu itu kan?” kali ini terdengar suara benar-benar penuh harap.
Aku mengangguk, “Ya, aku tak ingin mengalami nasib sial seperti kawanku yang lain,” dustaku.
“Aku baca di koran, banyak yang tertangkap dan dihukum mati,” katanya dengan nada hati-hati. Ia tentu masih berpikir bahwa sejak dulu aku pengedar obat terlarang seperti dustaku padanya. Ia tak tahu pekerjaanku yang sebenarnya.
“Begitulah. Ah, ya, aku tak pernah bermimpi kita bisa bertemu lagi apalagi di tempat seperti ini…”
“Kalau aku jujur saja sangat berharap bertemu kamu..”
“Maksudku, tak terpikirkan kita bisa bertemu malam ini, di sini…”
“Aku ke sini karena aku sudah lama sekali tak berada di tengah keramaian. Dan sangat mengejutkan kulihat kamu tadi di antara jubelan orang-orang…”
“Ya, kupikir kita punya kesamaan. Entah kenapa aku tertarik ke tempat ini…”:
“Kamu tak bertanya…”
Setelah sejenak kupikirkan, “Tentang mengapa kamu sangat berharap bertemu aku?”
Ia mengangguk.
“Kenapa?” Aku tak mencoba lebih jauh menebak-nebak.
Ia tak segera menjawab. Setelah menatapku agak lama, ia mengambil dompet dari saku celana jins yang dipakainya. Ia memperlihatkan sebuah potret.
“Peristiwa ini telah kuimpikan sejak anakku lahir…” Dompet di tangannya bergetar. Aku mengambilnya. Kuperhatikan. Anak perempuan itu tersenyum manis. Ada yang berdesir hangat di pergelangan tanganku. Kutatap kembali wajahnya.
“Sudah kukira. Kamu tak akan mengenalnya…”
Mataku melebar gugup.
“Aku tak terlalu berharap kamu mengakuinya. Tapi setelah kita sering berhubungan, aku berhenti dari pekerjaanku. Setiap saat aku menunggu kamu, terutama setelah aku tahu aku mengandung. Tapi kamu tak kunjung datang…”
Kelebat berbagai peristiwa mengalir deras di otakku. Inilah. Setelah seorang direktur perusahaan besar tewas di ujung pistolku, aku menghilang. Lebih dari sepuluh tahun hingga aku bisa kembali ke tempat seperti ini, sekaligus juga ke pekerjaanku yang tak ia ketahui. Kini semuanya seakan berputar dan aku terpental jauh ke dunia yang tak pernah kuimpikan.
Aku mencari-cari jawaban di sorot matanya yang kini basah. Aku mendapatkannya. Kukira, ia tak akan pernah bersikap seperti ini hanya untuk menyampaikan hal yang tak ada artinya. Tangannya kuraih dan aku benar-benar mendapati diriku sendiri sangat tak berarti.
Ia melepaskan tangannya. Mendorong potret itu ke depanku. Aku mengambilnya dan kutatap wajah anak itu. Entah kenapa, kini aku seperti berhadapan dengan sebuah cermin besar, tempat di mana aku bisa dengan jelas menilai kebusukanku sendiri.
Tiba-tiba terdengar suara ponsel. Ia mengambil ponselnya dan berbicara kepada seseorang di seberang sana dengan mulut ditutup tangan.
“Ia telah menungguku di hotel tempat kami menginap. Aku harus pulang,” katanya kemudian setelah menyimpan ponsel dan dompetnya ke dalam saku.
“Di hotel mana?” tanyaku segera. Potret kumasukkan ke saku jaketku.
“Istana Hotel,” katanya sambil berdiri lalu melambai pada penunggu warung. Aku membayar apa yang kami minum, lalu ke luar.
“Istana Hotel?”
“Hmm. Cuma hotel itu yang biasa disinggahi pejabat penting di kota ini.”
“Ppejabat penting? Yang bersama kamu?”
Langkahnya terhenti, berpaling padaku seakan tengah mengulang beribu adegan sama dari masa lalu, “Ya, dia yang selama ini menghidupi kami berdua. Kamu tak harus tahu orangnya. Dan, aku sangat berharap suatu saat kita bisa bertemu lagi…”
“Aku akan mencarimu ke hotel, besok…”
Ia tak menjawab. Kami menyeruak di antara manusia-manusia yang menghabiskan malam di keramaian ini. Tiba di jalan, ia memanggil becak dan pergi. Sejenak ia menatapku, lalu tanpa sepatah pun ia lalu menghilang dari mataku.
Tiba-tiba sebuah perasaan aneh menyergap ulu hatiku. Istana Hotel. Seorang pejabat penting. Itulah sebenarnya alasanku kenapa ada di kota kecil ini. Aku tiba-tiba sangat mual dan ingin muntah. Pistol kecil yang terikat di balik kaus kakiku, tiba-tiba terasa begitu berat. Sangat berat.***