gerimis

ada dan tiada

berbagi ruang dalam hatiku

saat kau menjelma gerimis

yang tak pernah kuduga

akan turun di senja itu

2007

gombloh-1.jpg

Gombloh dan Lemon Tree’s anno ’69
“Nadia & Atmospheer”

Gombloh : akustik gitar, akustik gitar 12 snar, tabla, conga, drum, bass
Wisnu Padma : akustik piano, synthesizer, organ, harpsichord, sinthebass, rolandstring, cello, bluesharp, mellotron, flute, violin, cabasa
Gatot : elektrik gitar, akustik gitar
Tuche : elektrik bass
Totok : drum
Vokal : Gombloh, Lorena, Reny C, Ais

Lagu dan Lirik : Gombloh
Produksi Indra Record/Golden Hand, 1978

Side A
1. Lepen (nostalgia Lemon Tree’s)
2. Merah & Putih Bersilang di Dadaku
3. Nadia & Atmospheer
4. Kereta itu Berangkat pk. 4.30
5. Ironi
6. Kemarau Panjang
Side B
1. Gaung Mojokerto-Surabaya
2. Tetralogi Fallot
3. Sillhuet Kuda Jantan
4. Hijau Mencekam
5. Bencana ‘ 76
6. Senandung Pengemis Tua Seharga 5 Rupiah
7. Dimensi Antar Ruang

DENGAN kalimat apa kita mulai membicarakan seorang Gombloh? Mungkin dengan sebuah kalimat pujian: Ia musikus yang jenius.
Kau bolehlah tak setuju, kawan, tapi bagiku, Gombloh adalah musikus serba lengkap. Ia cerdas menulis lirik, asyik mengolah nada, dan jenial dalam mengaransir lagu serta mampu memainkan berbagai alat musik sebagaimana tercantum dalam kaver kaset “Nadia & Atmospheer” ini.
Ini adalah album pertama Gombloh bersama Lemon Tree’s. Album yang kaya warna, terutama dalam tema lirik yang ditulis Gombloh. Saat kita mulai memutarnya di side A, yang pertama akan kita dengar adalah kenakalan Gombloh dalam menggombali perempuan. Dengan irama blues yang “melayang”, harmoni gitar dan hisapan harmonika, terdengar dibawakan dalam sebuah konser lengkap dengan teriakan “Selamat malam, Surabaya!” plus tepuk tangan, lagu ini terdengar ringan dan menyenangkan. Nilai plusnya tentu saja di lirik. Rayuan Gombloh seakan ingin mewakili para pejuang cinta dari kelas jalanan, yang pantang mundur, sok necis, sok romantis, dan tentu saja, tak kepalang gombal. Apa lacur, saat ngapel pada si gadis, malah yang keluar adalah bapaknya, yang mukanya ditekuk persis kaya onta! Haha, Gombloh memang “bangsat” penutur humor yang asyik dalam lagu.

Tapi, ini bukan album humor, kawan. Di lagu ke dua, “Merah & Putih Bersilang di Mukaku”, Gombloh hadir dengan jiwa merah putih yang lantang bertutur tentang kontradiksi yang ada di negerinya. Di lagu beraroma art rock (atau bacalah: rock progressive) berdurasi 8.20 menit ini, Gombloh menyandingkan kondisi yang “bayi telanjang / bersimbah tawa bersimbah peluh” dengan “pedang telanjang / bersimbah darah bersimbah keluh”. Ia memotret negerinya dengan nada yang “nrimo” , dengan selipan nada riang, seakan memang kondisi di mana “Damai desa ramai kota saling pagut menyeluruh” telah ia terima sebagai kewajaran khas dari sebuah kehidupan.

Sebagai pencipta lagu, Gombloh nampak fasih bercerita apa saja. Ia tak hanya mampu membuat rasa nasionalisme kita kian tambun, tapi juga bisa dengan cerdas menyisipkan tema-tema yang agak asing dan jarang kita jumpai dalam lagu Indonesia kebanyakan. Seperti tentang duka seorang ibu yang mengandung anaknya, tapi kemudian anaknya meninggal, dalam lagu “Tetralogi Fallot”. Judulnya sendiri sudah “berbau medis” (fallovian: saluran telur menuju rahim). Judul dan tema yang langka, dan mungkin baru Gombloh yang menuliskannya dalam lagu.

Di lagu lain, Gombloh bahkan bercerita tentang masa depan. Kecemasan illusif yang tercium tajam terdapat dalam lagu “Hijau Mencekam”, yang bercerita tentang satu juta tahun setelah Masehi. Kata Gombloh, kelak: Pencakar langit berlomba dengan statistik kelahiran / Taman-taman tersingkir oleh kepadatan insan. Kebutuhan bumi dipenuhi dengan kalengan, entah benda padat atau benda cair.
Mahluk yang kita sebut Alien, terdapat dalam lagu “Dimensi Antar Ruang”. Ceritanya si tokoh dalam lagu berjalan sendiri, tiba-tiba ada suara aneh bagai suara musik campur dengung lebah. Ia pun mencari sumber suara, ternyata datang dari atas, sebuah benda bulat bersinar melayang turun, dan dari benda itu turunlah mahluk manusia kristal. Alien. Sayang, mahluk itu datang dan pergi begitu cepat, hingga si tokoh dalam lagu itu tak sempat bertanya: Apakah negara di sana berbentuk republik, apakah di sana ada demontrasi, apakah di sana ada prostitusi? Uh, imajinasi yang liar. Tapi, dasar Gombloh, ia masih juga menyisipkan lirik tentang kecintaannya pada Republik Indonesia, di akhir lagu. Agak terganggu sebenarnya dengan bagian akhir di lagu itu, tapi, ya memang begitulah inginnya si pencipta lagu.

Lagu lain, ada tentang keindahan alam, kedamaian, juga sketsa sosial tentang pengemis tua. Gombloh juga lantang bersikap jantan dalam lagu “Silhuete Kuda Jantan”.

Musikus bernama asli Sudjarwoto Sumarsono yang lahir di Jombang, 12 Juli 1948 dari pasangan Slamet dan Fatukah ini, meninggalkan salah satu karya terbaiknya, yakni album ini. Ia meninggal 9 Januari 1988, setelah berkarya dalam 16 album, baik bersama Lemon Tree’s, maupun album solo.*

Lirik

LEPEN (lelucon pendek)

Bagiku sinar mentari tak seindah matamu
Untukku elusan angin tak semulus lenganmu
Tak perduli omongan temanku
Tak perduli resiko untukku
Aku naksir kamu kau jadi gadisku

Malam minggu pertama aku piket
Dengan sisa uang di saku hampir lengket
Dengan tiga batang dji sam soe
Kusimpan di saku blue jeanku
Kickers loakkan menambah angker tampangku

Kupilih duduk di sudut agak remang
Kutunggu keluar sang putri Aryo Penangsang
Pikiran melayang yang bukan-bukan
Andaikan kau dan aku berpacaran
Kalau cinta melekat tai kucing rasa coklat

Tapi apa lacur yang keluar adalah bapaknya
Dengan muka ditekuk persis kaya onta
Dengan garang ia berkata
Gadisku tak ada di rumah
Sambil ngedumel kuberkata dalam hati… Bangsat!!!

*pada versi lain, Gombloh merubah lirik di bait ke 1 & 2 menjadi:

Bagiku sinar mentari tak seindah matamu
Untukku elusan angin tak semulus pahamu
Tak perduli omongan temanku
Tak perduli resiko untukku
Aku naksir kamu kau jadi “ehe”-ku

malam minggu pertama aku piket
dengan sisa uang di saku hasil nyopet
dengan tiga batang dji sam soe
kusimpan di saku blue jeansku
kickers loakkan menambah item kakiku

MERAH DAN PUTIH BERSILANG DI MUKAKU

Angin laut tampar lembut terasa dingin di kudukku
Burung camar samar halus fatamorgana di depanku
Senyum perawan tipis berawan
Tempel di pelupuk mata kananku
Yang Shanti
Yang Shanti
Yang Shanti
Yang Shanti

Bara api terasa kering lapisan panas di keningku
Prostitusi caci maki budaya lewat di kotaku
Bersimpang siur dada berdebur
Tempel di pelupuk mata kiriku
Yang Shanti
Yang Shanti
Yang Shanti
Yang Shanti

Hey hey bayi telanjang
Bersimbah tawa bersimbah peluh
Hey hey pedang telanjang
Bersimbah darah bersimbah keluh

Kejar mengejar diseling kerling
Mega berarak tuding-menuding
Peluk berpeluk saling menggiling
Guru mengguru dunia berpaling

Damai desa ramai kota saling pagut menyeluruh
Kuncup tebu asam arang saling berjanji memadu
Lestari alam ciptaan Satu
Tempel di kedua mata batinku
Yang Shanti
Yang Shanti
Yang Shanti
Yang Shanti

10kaver.jpg

Judul Buku             : Purnama di Bukit Langit
Antologi Puisi Tiongkok Klasik
Karya Terjemahan : Zhou Fuyuan
Penerbit                 : Gramedia (cet.1/April 2007)
Tebal                     : 454 h

CARILAH ilmu meskipun sampai ke negeri Cina, sabda Nabi. Dan hal ini berlaku juga untuk kita yang ingin mendalami puisi. Cina atau Tiongkok tercatat sebagai negeri dengan sejarah kesusastraan paling tua di muka bumi ini. Puisi-puisi Cina klasik hingga saat ini bagai sumur yang tak pernah kering digali, dinikmati, dirasakan kesejukan dan kesegarannya. Ribuan, bahkan jutaan puisi lahir dari ribuan penyair Tiongkok kuno. Karya-karya mereka adalah mutiara yang kilauannya menembus bentangan masa, terentang sepanjang zaman.

Sayangnya, mutiara-mutiara tersebut tak bisa kita reguk kilauannya dengan leluasa dalam rentang waktu yang cukup lama. Pada masa orde baru berkuasa di negeri ini, hanya beberapa gelintir puisi saja yang bisa kita nikmati terjemahannya dalam berbagai cetakan media. Selama itu bahkan tercatat hanya satu buku yang pernah diterbitkan mengenai karya-karya penyair Tiongkok klasik, yakni Antologi Puisi Klasik Cina (Budaya Jaya, 1976). Buku ini memuat 56 buah puisi hasil terjemahan Sapardi Djoko Damono dari Bahasa Inggris. Artinya puisi tersebut sampai ke tangan kita setelah mengalami dua kali penerjemahan, dari bahasa Cina ke Bahasa Inggris, lalu ke Bahasa Indonesia. Kebijakan politik orba tentu saja menjadi salah satu penyebab utama mengapa kita begitu berjarak dengan karya sastra Cina selama ini.

Bila membaca buku terjemahan Sapardi kita hanya bisa mencicipi sedikit dari aroma klasik puisi Cina, maka lewat buku “Purnama di Bukit Langit” kita bisa mereguk puas aroma dan auranya yang sungguh menakjubkan. Dalam buku ini tak kurang dari 560 buah puisi disajikan sang penerjemah Zhou Fuyuan. Ia menghimpun dan mengalihbahasakan langsung dari bahasa aslinya (Cina klasik) ke bahasa Indonesia, dengan sangat luarbiasa.

Setidaknya hingga saat ini, buku inilah yang paling representatif menghadirkan karya-karya terbaik dari jagat perpuisian Tiongkok klasik yang terentang dari zaman Dinasti Zhou (1066?-256SM) sampai kerajaan terakhir yakni Dinasti Qing (1616-1911). Untuk pembaca yang sama sekali buta akan keberadaan puisi Tiongkok klasik, penerjemah bermurah hati menuliskan berbagai hal berkaitan dengan puisi dan kondisi masyarakat Tiongkok yang melatar belakangi lahirnya karya puisi. Tulisan cukup panjang yang terangkum dalam bab Pendahuluan tersebut, memuat hal-hal yang sangat membantu kita untuk mengetahui lebih dalam tentang posisi puisi dalam masyarakat Tiongkok kuno, perjalanan sejarah negeri Tiongkok, dan jenis puisi yang banyak ditulis para penyairnya. Dan pada bagian lain, tercantum juga biografi singkat 17 tokoh penyair penting dalam dunia kepenyairan Tiongkok klasik.

Kian lengkap, karena buku ini juga diawali dengan pengantar Leo Suryadinata yang dengan detil menguji kualitas penerjemahan Zhou Fuyuan, dan membuat kita percaya bahwa Zhou Fuyuan lebih mampu mengalihbahasakan puisi Tiongkok klasik ini dibanding penerjemah terdahulu. Lewat beberapa contoh yang diuraikan, kita selanjutnya bisa tenang membaca satu persatu judul puisi tanpa takut disesatkan oleh buruknya penerjemahan, sebagaimana seringkali kita hadapi saat membaca buku-buku sastra terjemahan akhir-akhir ini.

Yang sangat menarik, Zhou Fuyuan menghidangkan puisi-puisi terjemahannya ini dengan disertai juga catatan kaki mengenai situasi yang dialami sang penyair ketika menuliskan puisi tersebut. Hal ini ia lakukan untuk puisi yang memang butuh keterangan tentang latar budaya khas dan situasi politik yang tengah berlangsung dan menjadi latar lahirnya puisi tersebut. Hal ini penting karena banyak penyair Tiongkok klasik yang juga menjadi bagian dari kekuasaan sebuah dinasti, atau juga terlibat dalam pergolakan politik.
Misalnya pada sebuah puisi pendek karangan Jing Ke (?-227SM) berjudul “Nyanyian Sungai Yi”. Isi puisinya demikian: Angin menderu-deru oh dinginnya Sungai Yi, / sekali bertolak oh Satria takkan pulang kembali!//. Untuk puisi ini penerjemah menyisipkan catatan kaki: Jing Ke diberi tugas rahasia melaksanakan pembunuhan terhadap Raja Qin. Pangeran Yun dan para sahabat dekat berpakaian serba putih, melepas keberangkatan di tepi Sungai Yi. Sadar baik sukses maupun gagal tak akan lolos dari kematian, saat berpamitan Jing Ke melantunkan lagu ini. (Hal. 25).

Demikian, buku yang ulasan penutupnya ditulis oleh Sapardi Djoko Damono ini, tak hanya memberi kita bahan apresiasi, tapi juga sebuah karya lengkap yang akan membuat ruhani kita menjadi semakin berisi. (Nazaruddin Azhar)***

Halaman Berikutnya »